Kurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Qurban Untuk Orang Yang Sudah Meninggal

Kami akan mengulas mengenai pertanyaan dari sahabat Aqiqah Berkah mengenai qurban untuk orang yang sudah meninggal. Yukkk mari di simak…

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya ingin menanyakan, apakah boleh melakukan qurban untuk orang yang sudah meninggal? hukumnya bagaimana? Tahun lalu keluarga saya ikut qurban atas nama bapak saya yang sudah meninggal (karena sebelum meninggal dia pernah niat untuk qurban) Di tahun ini alhamdulillah saya punya rezeki yang lebih, nah saya mau qurban untuk bapak saya itu lagi. Boleh atau tidak ya? Hukumnya gimana? Syukran. Wassalam

Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh. Umumnya para ulama membenarkan dan membolehkan seseorang menyembelih hewan qurban untuk keluarganya yang telah wafat. Kalau pun ada berbedaan diantara mereka, maka sedikit saja permasalahannya. Bila ayah Anda semasa hidupnya pernah berwasiat untuk berkurban dari harta yang dimilikinya, maka semua mazhab menerimanya dan berpendapat bahwa berkurban untuk orang yang sudah meninggal itu syah.

Sedangkan bila inisiatif itu datang dari Anda sendiri sebagai anaknya dan uangnya juga dari uang Anda sendiri, maka para ulama sedikit berbeda pendapat. Fuqaha dari kalangan Al-Malikiyah mengatakan bahwa hal itu masih tetap boleh tapi dengan karahiyah (kurang disukai).

Sebaliknya, kalangan fuqaha dari Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa hal itu boleh hukumnya. Artinya tetap syah dan diterima disisi Allah SWT sebagai pahala qurban.

Masalah yang Anda tanyakan ini sebenarnya terkait dengan perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang mengirimkan pahala ibadah kepada orang yang sudah wafat. Sebenarnya jumhur ulama umumnya menerima bahwa pahala yang dikirimkan kepada mayit di kubur itu bisa sampai.

Terkecuali pendapat kalangan Asy-Syafi’iyah , mereka tidak menerima pandangan itu. Artinya, kalangan fuqaha Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa tidak bisa dikirim pahala kepada orang yang sudah wafat. Kecuali bila memang ada wasiat atau waqaf dari mayit itu ketika masih hidup.

Sedangkan dasar kebolehannya adalah bahwa dalil-dalil menunjukkan bahwa kematian itu tidak menghalangi seorang mayit bertaqaruub kepada Allah SWT, sebagaimana dalam masalah shadaqah dan haji. Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ibu saya telah bernazar untuk pergi haji, tapi belum sempat pergi hingga wafat, apakah saya harus berhaji untuknya?”. Rasulullah SAW menjawab,”Ya pergi hajilah untuknya. Tidakkah kamu tahu bila ibumu punya hutang kamu akan membayarkannya?. Bayarkanlah hutang kepada Allah karena hutang kepada-Nya lebih berhak untuk dibayarkan.” (HR. Al-Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ibadah haji dengan dilakukan oleh orang lain memang jelas dasar hukumnya, oleh karena para shahabat dan fuqoha mendukung hal tersebut. Mereka di antaranya adalah Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah, Imam Asy-Syafi`i ra. dan lainnya. Sedangkan Imam Malik ra. mengatakan bahwa boleh melakukan haji untuk orang lain selama orang itu sewaktu hidupnya berwasiat untuk dihajikan.

Seorang wanita dari Khats`am bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah mewajibkan hamba-nya untuk pergi haji, namun ayahku seorang tua yang lemah yang tidak mampu tegak di atas kendaraannya, bolehkah aku pergi haji untukny ?” Rasulullah SAW menjawab,”Ya”. (HR Jamaah).

Wallahu a`lam bishshowab. Wassalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

itulah yang dapat kami sampaikan mengenai qurban untuk orang yang sudah meninggal. Jika anda membutuhkan kambing qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : D801E13D
TELPON/SMS : 085749622504

Jl. Raya Gebangkerep No.01 Baron, Nganjuk

Tags: , , , ,