Kambing Qurban Jakarta Timur

Kambing Qurban Jakarta Timur

Hai para sahabat Aqiqah Berkah yang di Rahmati oleh Allah SWT. Masih dalam keadaan sehat dan baik kan. Kurban 2018 akan segera datang, anda yang ingin berkurban segera carilah kambing atau sapi kurban yang sehat dan berkualitas. Tapi sebelum membeli kambing atau sapi anda patut menyimak ulasan berikut ini mengenai kurban. Cekidot….

Pengertian Ibadah Kurban

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata kurban berarti mempersembahkan kepada Tuhan (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada hari raya lebaran haji).

Kata kurban dalam bahasa Indonesia adalah terjemahan dari bahasa Arab. Dalam penelusuran penulis ditemukan tiga buah kata yang mempunyai pengertian kurban, yaitu: al-nahr, qurban, dan udhiyah. Kata al-nahr yang berarti kurban hanya sekali terdapat dalam Alquran dalam surat al-Kautsar dengan menggunakan bentuk amr yaitu inhar. Terampil dari kata nahr yang dari segi bahasa berarti dada; sekitar tempat untuk meletakkan kalung. Jika dikatakan nahrtuhu maka maknanya saya mengenai dada dalam arti menyembelihnya. Firman Allah dalam Q.s al-Kautsar [108]: 1-2 , sebagai berikut:
Sesungguhnya kami Telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka Dirikanlah salat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

Bentuk yang kedua adalah kata kurban, berasal dari kata qaraba yang berarti dekat, sesuai dengan tujuan ibadah kurban yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata qurban yang digunakan untuk pengertian pelaksanaan ibadah kurban dapat ditemukan dalam dua firman Allah dalam Q.s. al- Maidah [5]: 27, sebagai berikut:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mem persembahkan kurban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil):
“Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dijelaskan juga dalam Q.s. Ali Imran [3]: 183, sebagai berikut: (yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah Telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api”. Katakanlah: “Sesungguhnya Telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, Maka Mengapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar.

Bentuk yang ketiga adalah kata udhhiyah. Udhhiyah untuk pengertian ibadah kurban dapat ditemukan dalam beberapa bentuk yaitu udhiyah, idhiyah (dengan bentuk jamak nya udhhahi, dhahiyah), Adhah (dengan bentuk jamaknya dhahaya), dan adhha.

Kurban secara etimologi yaitu hewan yang dikurbankan atau hewan yang disembelih pada hari raya Idul Adha. Dalam hal ini penamaan sesuatu (Idul Adha) dengan nama waktunya yaitu Dhuha (matahari naik sepenggalahan). Karena pada waktu itulah biasanya ibadah kurban dilaksanakan.

Berikut ini beberapa definisi kurban secara Terminologi yang diajukan beberapa ahli fikih:

  1. Wahbah al-Zuhaili menyatakan kurban adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah pada waktu yang telah ditentukan. Atau binatang ternak yang disembelih guna mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari Idul Adha.
  2. ‘Abd Rahmân al-Jazîrî menyatakan kurban adalah binatang ternak yang disembelih atau dikurbankan untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari-hari idul kurban; apakah orang yang melaksanakan ibadah haji ataupun tidak. Kalangan Malikiyah menyatakan ibadah kurban tidak diperintahkan bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji. Menurut kalangan Malikiyah karena mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji telah ada pensyari’atan dam (al-Hadyu).
  3. Hasan Ayyûb menyatakan kurban adalah unta, sapi, kambing yang disembelih pada Idul Adha dan hari-hari tasyrik dengan tujuan unuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dari definisi-definisi di atas, dapat diambil pokok-pokok pikiran tentang ibadah kurban sebagai berikut:

  1. Binatang yang dikurbankan adalah binatang tertentu yaitu unta, sapi, kerbau, biri-biri, domba, dan kambing serta yang sejenis dengannya.
  2. Waktu pelaksanaannya pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik.
  3. Tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dari definisi yang kedua di atas, kalangan Malikiah menambahkan bahwa ibadah kurban itu tidak diwajibkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji. Adapun alasan mereka adalah karena mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji telah ada pensyari’atan al-hadyu.

Hukum Pelaksanaan Ibadah Kurban

Pelaksanaan ibadah kurban disyari’atkan pada tahun kedua hijriyah, bersamaan dengan pensyari’atan zakat fitrah, zakat mal, dan salat Id.

Landasan pensyari’atan ibadah kurban berdasarkan Alquran, hadis dan ijma’. Firman Allah yang melandasi syari’at ibadah kurban antara lain disebutkan dalam Q.s al-Kautsar [108]: 2, sebagai berikut:
Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Serta firman Allah yang menyatakan bahwa menyembelih binatang-binatang ter sebut adalah bahagian dari syiar agama Allah dalam Q.s. Al-Hajj [22]: 36, sebagai berikut:
Dan Telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam ke adaan berdiri (dan Telah terikat). Kemudian apabila Telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami Telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.

Hadis nabi yang melandasinya antara lain hadis sahih yang berasal dari Anas yang menerangkan bahwa rasulullah berkurban dengan dua ekor domba yang penyembelihannya beliau lakukan sendiri.

Hadis Anas ra, ia berkata: “Telah ber kurban Nabi saw kibas putih dengan sedikit hitam lagi bertanduk, beliau menyembelihnya sendiri dengan membaca bismillah dengan bertakbir dengan meletakkan kaki-kaki beliau pada tulang-tulang rusuknya.” (Bukhari dan Muslim).

Hadis lain; hadis Aisyah yang menyatakan bahwa ibadah kurban adalah suatu ibadah yang sangat disukai Allah yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha: “Amalan manusia pada saat hari raya Idul Adha yang paling dicintai Allah adalah menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan dating pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban itu telah terletak di sutu tempatdi sisi Allah sebelum mengalir ke tanah. Karena itu bahagiakanlah dirimu dengannya.” (Hakim, Ibn Majah, dan Tirmizi; ia menyatakan hadis ini hasan lagi gharib).

Kaum muslimin berijma’ atas pen syari’at an ibadah kurban. Hadis-hadis telah me nunjukkan bahwasan nya kurban adalah amalan yang sangat dicintai oleh Allah, yang dilaksanakan pada hari raya Idul Kurban bahwa ia akan menjadi saksi bagi mereka yang melaksanakan ibadah kurban di hari kiamat kelak.

Syar’u Man Qablana; Dalam ilmu ushul fiqh pembahasan yang berkaitan dengan syari’at para nabi terdahulu. Dalam pem bahasannya dijelaskan bahwa hukum-hukum yang berlaku bagi umat-umat sebelum kita dan kemudian ditetapkan oleh syari’at islam (menjadi bahagian dari syari’at islam itu sendiri) berdasarkan dalil syara’. Tidak ada pertentangan dikalangan fuqaha bahwa hukum tersebut berlaku bagi kita umat Islam. Contohnya adalah pelaksanaan ibadah kurban yang merupakan sunah nabi Ibrahim. Firman Allah yang menjelaskan tersebut terdapat dalam Q.s. al-Shaffat [37]: 107, sebagai berikut: “Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Dan hadis nabi yang menegaskan hal itu adalah Zaid bin Arqam berikut:
“Aku ataupun mereka berkata;” Ya Rasulullah apakah yang dimaksud dengan kurban itu?”. Jawab Rasullah,”Sunah bapakmu nabi Ibrahim. Mereka bertanya apakah manfaatnya bagi kami? Jawab Rasul dari tiap helai bulunya adlah kebaikan merka bertanya lagi bulu hewan itu ya rasulullah? Jawab rasul tiap helai bulunya adalah kebaikan” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Para ahli fikh berbeda pendapat tentang hukum pelaksanaan ibadah kurban. Abû Hanîfah dan para pengikutnya menyatakan ibadah kurban hukumnya wajib dilaksanakan setiap tahun bagi mereka yang mampu dan mukim (tidak dalam perjalanan). At-Tahawi dan yang lainnya menyatakan pernyataan wajib yang dikatakan Abû Hanîfah, menurut pengikutnya Abû Yûsuf dan Muhammad adalah sunat muakkad. Dalil yang mereka kemukakan adalah:

  1. Perintah Allah yang terdapat dalam Q.s. al-Kautsar [108]: 2. Amr (perintah) Allah yang terdapat dalam ayat tersebut berarti wajib.
  2. Hadis Abu Hurairah yang berisikan ancaman bagi orang yang mampu tapi tidak melaksanakan ibadah kurban untuk tidak mendekati rumah Allah. Bersabda Rasulullah saw,”Siapa yang mempunyai kelapangan tapi ia tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat salatku.” (Ahmad dan Ibn Majah).
    Ancaman seperti yang terdapat di atas hanyalah unttuk mereka yang meninggalkan suatu perintah Allah yang hukumnya wajib. Seandainya perintah Rasulullah itu hukumnya sunat, maka nabi tidak akan menyebutkan ancaman yang sedemikian berat bagi orang yang tidak melaksanakannya. Maka sesungguhnya tidak berafedah mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan kewajiban ibadah kurban ini.
  3. Hadis yang menyatakan bahwa nabi tetap melaksanakan ibadah kurban walaupun beliau sedang dalam per jalanan, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Sauban berikut:
    “Rasulullah saw telah memotong hewan kurbannya kemudian ia bersabda,”Ya Sauban, simpanlah dengan baik daging ini. Akan senantiasa menyantapnya sehingga (kita) sampai ke Madinah” (Muslim).
  4. Terdapat hadis Nabi memerintahkan untuk mengulang pelaksanaan ibadah kurban bukan pada waktu yang ditetapkan (ia menyembelih hewan kurbannya sebelum pelaksanaan shalat Id). Perintah pengulangan ini hanya di tujukan bagi sesuatu yang wajib, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Jundab berikut:
    “Nabi salat (salat Id) pada hari raya Idul Adha, berkhutbah, lalu menyembelih hewan kurban. Maka belau bersabda, “Siapa yang menyembelih hewan kurbannya sebelum salat Id maka hendaklah ia (mengulangi) dengan me nyebelih hewan yang lainnya.” (Bukhari dan Muslim).

Di pihak lain Abu Bakar, Umar, Bilal, Abu Mas’ud al-Badri, Suwaid bin Ghoflah, Said bin Musayyab, Alqamah, ‘Ata’, asy-Syafi’I, Ishaq, Abu Saur, dan Ibnu Munzir (dalam hal ini mereka semua disebut Jumhur) berpendapat bahwa ibadah kurban itu hukumnya sunat muakkad, tidak wajib tetapi makruh meninggalkannya bagi mereka yang mampu. Syafi’iyah dalam hal ini menyatakan bagi tiap pribadi hukumnya sunah ‘ain dan sunah kifayah bagi tiap keluarga. Adapun Malikiyah menambahkan bahwa hal teersebut tidak disunatkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Dalil-dalil yang dikemukakan jumhur antara lain:

  1. Hadis Umu Salamah berikut: “Bahwa Nabi saw bersabda,”Apabila kamu telah melihat hilal awal bulan zulhijjah dan salah seorang di antara kamu hendak berkurban maka janganlah ia memotong bulu dan kukunya”. (HR Muslim).
    Hadis ini menunjukkan bahwa kurban itu tidak wajib dengan menggunakan redaksi (arada) yang berarti ingin secara implicit mengandung pengertian adanya pilihan antara melaksanakan ataupun tidak.
    Larangan untuk memotong bulu dan kuku hewan tersebut sebagaimana yang dimaksud dalam hadis di atas hanyalah bersifat makruh dan disunatkan untuk meninggalkan larangan tersebut.
    Salah satu hikmah untuk tidak memotong bulu dan kuku adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Nawawi adalah untuk membebaskan kita dari api neraka. Karena ia akan menjadi saksi di akhir atas ibadah kurban yang kita laksanakan.
  2. Praktik yang berlaku pada masa sahabat, di masa hidupnya Abu Bakar dan Umar tidak melaksanakan kurban karena dikhawatirkan para sahabat menilai bahwa kurban itu hukumnya wajib. Dan Ibnu Abbas yang membeli daging senilai dua dirham, kemudian ia berkata, “Inilah kurbannya Ibnu Abbas”.
    Ada dua hal yang menjadi sebab perbedaan pendapat para ahli yaitu:
    a. Apakah ibadah kurban yang di laksanakan nabi memfaedahkan wajib atau sunat.
    b. Pemahaman teerhadap hadis-hadis yang membahas tentang hukum pelaksanaan ibadah kurban seperti hadis Umu Salamah di atas.

Bagi kelompok pertama perintah pengulangan kurban di atas menunjukkan hukum wajibnya, sedangkan bagi kelompok kedua menyatakan kata arada yang terdapat dalam hadis itu menunjukkan bahwa hadis kurban itu tidak wajib.

Ibnu Hazm menyatakan tidak sahih pernyataan salah seorag sahabat yang menyatakan ibadah kurban itu wajib yang sahih adalah bahwa kurban itu tidak wajib. Dalam hal ini tidak terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa ibadah kurban itu syari’at Islam.

Sunah – Sunnah Kurban:

  1. Menyembelih sendiri.
  2. Kalau tidak bisa menyembelih maka hendaknya menyaksikan penyembelihan dan menghadiri.
  3. Membeli hewan kurban terbaik

Adab menyembelih

  1. Menyiapkan alat sembelih (pisau/golok) yang sangat tajam.
  2. Menyiapkan tempat penyembelihan yang layak, bersih dan memudahkan penampungan darah sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit setelah proses penyembelihan
  3. Menyiapkan tempat pembuangan kotoran agar tidak merusak daging yang ada dan tidak menimbulkan bahaya penyakit.
  4. Membuat rileks/tidak panik hewan yang akan disembelih.
  5. Menghadapkan hewan ke arah kiblat.
  6. Membaca basmalah dan takbir.
  7. Memutuskan wudjain yaitu saluran nafas dan saluran makanan.
  8. Tidak membuat luka lain yang mempercepat kematian
  9. Tidak mewakilkan penyembelihan pada orang lain.
  10. Apabila hewan kurban yang akan disembelih lebih dari satu, hendaknya tidak menyembelih dihadapan hewan lainnya. Tempat penyembelihan terpisah dari tempat hewan kurban dikumpulkan
  11. Memotong daging, tulang dan bagian yang lainnya ditempat bersih
  12. Hal-hal yang baik dan menambah kesempurnaan pemotongan dan pembagian daging termasuk adab dalam menyembelih
  13. Menyembembelih dengan cara melukai apabila darurat

Hal-Hal Makruh Dalam Menyembelih

  1. Menggunakan Alat Tumpul
  2. Pisau diperlihatkan kepada hewan yang akan disembelih
  3. Menguliti Hewan sebelum hewan itu benar-benat mati
  4. Mengangkat Pisau Sebelum sempurna Proses menyembelih, Sebaiknya hewan mati dengan satu luka di leher
  5. Apabila pisau diangkat kemudian melanjutkan menyembelih masih dianggap sah

Penentuan Idul Adha

  1. Penentuan Iedul adha mengikuti ketetapan dari pemerintah Saudi.
  2. Saum Hari arafah ketika para jamaah haji berada di padang Arafah
  3. Apabila pemerintah Indonesia mengambil keputusan yang berbeda dengan kerajaan Saudi maka saum Arafah tetapmengikuti hari dimana para jamaah haji berada di padang arafah
  4. Sholat Iedul Adha boleh di hari-hari tasyriq.
  5. Ied Jatuh pada Hari Jumat
  6. Ada Dua Hari Raya dalam satu hari ; Jumata dan Ied ( Fitri atau Adha )
  7. Boleh Tidak Sholat Jumat
  8. Pengurus Masjid Harus Mengadakan Sholat Jumat
  9. Ada yang berpendapat Tidak Wajib Sholat Dhuhur

Itulah yang dapat kami sampaikan mengenai qurban, hukum qurban kambing dll. Semoga bermanfaat untuk anda semuanya. Ammiinnnn…

Jika anda membutuhkan kambing Aqiqah atau qurban dengan Kualitas terbaik dan berkualitas anda melihat di website kami www.aqiqahberkah.com atau bisa juga menghubungi nomor berikut ini untuk informasi lebih detailnya. Kami tunggu pesanan anda….

Aqiqah Berkah (47)
Untuk Informasi Lebih lanjut Hubungi Kami :
WA : +6281335680602
BBM : D801E13D
TELPON/SMS : 085749622504

Hewan atau Kambing bisa dipilih di kandang kami dan Gratis titip hewan qurban sebelum di antar.

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Tags: , , , ,