Pendidikan Agama Pada Anak Oleh Orang Tua

PENDIDIKAN AGAMA PADA ANAK OLEH ORANG TUA

Agama merupakan suatu faktor terpenting dalam hidup dan kehidupan manusia, karena agama mampu memberikan makna, arti dan tujuan hidup dan kehidupan manusia itu sendiri.

Sehubungan dengan agama sangat penting dalam hidup dan kehidupan seseorang maka penanaman nilai nilai ajaran agama itu harus dilaksanakan sedini mungkin.

Dalam kaitan dengan pendidikan agama pada anak, Islam menempatkan fungsi dan peran keluarga.

Lembaga pendidikan dasar menurut Islam adalah keluarga dan menempatkan kedua orang tua sebagai pendidik utama dalam pendidikan dan menempati fungsi dan peran strategis dalam pembentukan nilai yang berhubungan langsung dengan keyakinan.

Adapun sekolah sebagai lembaga perdidikan artifisialis, pada hakekatnya hanya merupakan perpanjangan dari tugas dan tanggung jawab keluarga. (Jalaluddin, 2004: 6 )

Dengan demikian pendidikan agama pada anak dalam keluarga merupakan hal yang serius untuk dilaksanakan. Anak adalah amanah yang dipercayakan Allah SWT kepada kedua orang tuanya.

Kedua orang tua bertanggungjawab untuk merawat, mengasuh dan mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang sehingga menjadi anak yang beragama, bertakwa, sehat jasmani dan rohani, cerdas, terampil, aktif, kreatif, sopan, penyayang, bertanggung jawab serta tanggap terhadap tatangan zaman karena.

Pendidikan agama yang diberikan kepada anak-anak pada masa kecil, akan bersifat menentukan bagi kehidupan agama mereka dikemudian hari.

Apabila seorang anak sudah menerima didikan agama sejak kecil yang diberikan dengan sabar dan teliti oleh orang tuanya, maka hal ini berarti bahwa anak tersebut telah dilengkapi dengan sesuatu kekuatan rohani untuk menghadapi pengaruh-pengaruh anti agama yang akan dijumpainya dikemudian hari.

Betapa besar malapetaka yang akan menimpa kehidupan seorang anak pada masa pertumbuhan sampai menjadi dewasa, apabila sama sekali tidak diberikan pelajaran agama pada masa kecilnya.

Oleh karena itu pendidikan agama sejak masa kanak-kanak sangat penting, jangan sampai orang tua melalaikan pendidikan anaknya.

Kabanyakan anak jatuh dalam kerusakan disebabkan kesalahan orang tuanya yang tidak atau kurang memberikan perhatian untuk mendidik anaknya dengan ajaran-ajaran agama semenjak kecil, sehingga anak tidak dapat memberikan mamfaat kepada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Oleh karena itu orang tua harus benar-benar memperhatikan masalah pendidikan anak terutama pendidikan agama kepada anak-anak mereka.

Begitu pentingnya fungsi dan peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai agama pada anak, maka dalam artikel ini penulis mencoba untuk mengangkat masalah tentang usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan orang tua dalam rangka memberikan pendidikan agama pada anak pada masa anak-anak.

Namun, sebelum membahas usaha-usaha tersebut, ada baiknya kalau saya bahas sedikit tentang masa anak-anak, perkembangan agama pada anak, dan sifat agama pada anak-anak.

Masa Anak-anak

Masa anak-anak dimaksudkan adalah masa sebelum remaja yaitu sebelum umur 12 tahun, dimana masa tersebut sebenarnya mengandung tiga periodesasi perkembangan yaitu :

(1) Umur 0 – 2 tahun disebut masa vital.

(2) Umur 2 – 6 tahun disebut masa kanak-kanak.

(3) Umur 6 – 12 tahun disebut masa sekolah.

Masa vital merupakan masa perubahan jasmani yang tercepat. Pada umumnya kalau anak itu normal dan sehat, maka selama enam bulan pertama bertamabah kurang lebih dua kali lipat dari berat badannya sewaktu lahir.

Masa vital adalah masa dimana anak banyak membutuhkan pertolongan dari orang di sekitarnya dalam hal ini adalah orang tuanya.

Usaha orang tua dalam memberikan pertolongan perlindungan kepada anak pada masa tersebut akan mempunyai pengaruh yang sangat besar sekali terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak dan juga pembentukan pribadi anak.

Masa Kanak-Kanak merupakan perkembangan pisikis yang terbesar. Masa ini oleh Kohnstamm dinamakan masa esthetis dimana anak mengalami perkembangan pengamatan indera yang terbesar.

Masa ini anak mulai sadar akan akunya dan mulai mengenal antara dirinya dengan orang lain.

Masa Sekolah yaitu dimana anak sudah mulai dianggap matang untuk mengikuti pelajaran di sekolah dasar, kalau anak tersebut perkembanganya normal.

Adapun tanda-tanda kematangan itu antara lain :

  • Pertama, Ada kesadaran terhadap kewajiban dan pekerjaan dan berkesanggupan untuk menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh orang lain kepadanya walaupun sebenarnya dia tidak menyukaianya.
  • Kedua, Perasan sosial kemasyarakatan sudah mulai tumbuh dan berkembang dimana hal ini dapat terlihat di dalam pergaulan anak dengan teman-temannya dan saling bekerja sama.
  • Ketiga, Telah memiliki perkembangan jasmani yang cukup kuat dalam rangka melaksanakan kewajiban dan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
  • Keempat, Telah memiliki perkembangan intelek yang cukup besar hingga memiliki minat, kecekatan dan pengetahuan. (Anshari,1991: 68-69)

Perkembangan Agama Pada Masa Anak

Rasa keagamaan yang dimiliki oleh anak-anak mengalami adanya perkembangan seiring dengan terjadinya perkembangan pada diri mereka secara menyeluruh. Manusia sebagai satu kesatuan, maka satu bagian tidak akan bisa dipisahkan dengan bagian yang lainnya.

Perkembangan manusia bukan merupakan proses yang berdiri sendiri terlepas dari bagian yang lain, tetapi merupakan rentetan yang tidak putus dan saling terkait dalam satu mekaniske saling mempengaruhi.

Sehubungan dengan perkembangan agama pada anak-anak. Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat, perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0 – 12 tahun.

Seorang anak yang pada masa anak itu tidak mendapat didikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama. (Darajat, 1976: 58-59).

Sebaliknya bila seorang anak yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, mendapatkan didikan agama dari orangtuanya karena orangtuanya mengetahui agama, lingkungan sosial dan teman-temanya juga hidup menjalankan agama, ditambah pula dengan pendidikan agama secara sengaja dirumah, sekolah dan masyarakat, maka anak tersebut pada masa dewasanya nanti akan dengan sendirinya mempunyai kecendrungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama.

Ia terbiasa menjalankan ibadah, senantiasa beramal sholeh, dan takut melakukan hal-hal yang dilarang agamanya. Sehingga ia merasakan betapa pentingnya agama dalam kehidupanya dan dapat merasakan betapa nikmatnya hidup beragama.

Sifat Agama Pada Anak-Anak

Memahami kosep keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on outhority.

Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritarius, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka.

Hal tersebut dapat dimengerti karena anak sejak usia muda telah melihat, mempelajari dan mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan orang dewasa, guru dan orang tua mereka tentang segala sesuatu termasuk ajaran agama.

Dengan demikian ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari orang tua maupun guru mereka.

Bagi mereka sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa walaupun ajaran itu belum mereka sadari sepenuhnya mamfaat ajaran tersebut (Jalaluddin dan Ramayulis, 1993: 35).

Hal-Hal Yang Dapat Dilakukan Orang Tua Dalam Pendidikan Agama Pada Anak

Orang tua mempunyai peranan penting dalam pendidikan dasar-dasar keagamaan terutama dalam mengarahkan, melatih dan membiasakan kelakuan-kelakuan keagamaan.

Orang tua adalah pusat kehidupan rohani si anak. Apa yang dipercaya oleh anak tergantung kepada apa yang diajarkan kepadanya oleh orang tua di rumah.

Hal ini selaras dengan sabda nabi Muhammad saw, tidaklah dilahirkan seorang anak, melainkan dengan fitrah, maka orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi (Zaini, 1982: vi).

Dengan demikian orang tua harus benar-benar menyadari bahwa dirinya mengemban amanah dari Allah,SWT untuk mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang berguna dan berakhlak baik dalam hidupnya.

Dalam rangka pendidikan agama pada anak-anak pada periode masa anak-anak, hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan olehorang tua, antara lain :

  • Pertama, pendidikan agama sebaiknya dimulai sejak dini, bahkan sejak sebelum anak lahir. Islam mewajibkan anak-anak diperhatikan sejak mereka berada dalam kandungan dengan cara memeliharanya sebaik mungkin, tidak menyakiti dan menggugurkannya.
  • Kedua, begitu anak lahir, Rasulullah memberi peunjuk agar orang tua mengucapkan adzan di telinga kanan dan qomat di telinga kiri anaknya, selanjutnya setelah usia anak 7 hari atau 14 hari atau 21 hari, anak tersebut diberi nama dengan nama yang baik, dicukur rambutnya dan disembelihkan aqiqah, yaitu dua ekor kambing atau biri-biri untuk pria dan satu ekor untuk bayi perempuan (Said, 1994:93).
  • Ketiga, memberikan air susu ibu kepada anak, sebaiknya selama dua tahun penuh. Firman Allah, ”Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingn menyempurnakan penyususannya. . .” (Q.S.Al Baqoroh : 233).
  • Keempat, memberi makan dan minum dengan makanan dan minuman yang halal dan baik (halalan-thayyiban). Ini sangat penting, karena menurut ajaran Islam, makanan dan minuman bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan phisik anak akan tetapi berkaitan juga dengan perkembangan jiwa dan kepribadiannya (Q.S. Al Baqorah : 168 dan 172).
  • Kelima, memelihara, merawat anak-anak dengan kasih sayang serta mendidiknya sampai mereka dewasa.
    Pendidikan bagi anak merupakan proses manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan termasuk ilmu agama yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana hal ini menjadi tanggung jawab orang tua menuju pendekatan diri kepada Allah SWT, sehingga menjadi manusia sempurna. Karena semuanya itu merupakan hak anak menurut ketentuan Islam.
  • Keenam, Orang tua harus memberi contoh atau suri teladan yang baik, keadaan orang tua dalam kehidupan mereka sehari-hari mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembiaan kepribadian anak.

    Sesuai dengan perkembangan jiwa anak yang memiliki sifat imitatif (meniru), maka dengan memberi contoh dan suri tauladan yang baik, anak akan meniru perbuatan tersebut, hingga menjadi kebiasaan yang melekat dalam tingkah laku anak.Contoh dan suri tauladan akan jauh lebih baik dan lebih membekas pada diri anak dari pada sekedar bahasa lisan, bahasa perintah atau larangan.

  • Dengan contoh dan suri tauladan yang baik dari orang tua maupun saudaranya akan mempercepat proses tumbuhnya jiwa keagamaan pada diri anak.
  • Ketujuh, membiasakan anak dengan tingkah laku keagamaan dalam kehidupan sehari-hari dirumah tangga misalnya: berlaku taat pada orang tua, mengajak anak melaksanakan sholat, menbaca al-qur’an, bersikap lemah lembut dan sopan, jujur dan bertanggungjawab, menunjukan pandangan hormat dan rasa segan pada orang tua, membiasakan anak berlaku adil tentunya dengan memberikan contoh perlakuan adil terhadap mereka.
  • Kedelapan, bila anak berbuat baik maka kita harus memberikan pujian dan sebaliknya bila anak melakukan kesalahan atau berbuat jelek kita harus memberinya arahan atau nasehat.

    Sebaiknya hindari ganjaran atau hukuman berupa pukulan, kalaupun harus dilaksanakan jangan sampai berlebih-lebihan. Hukuman yang berupa pukulan hendaknya jangan dilakukan pada muka, kepala atau bagian badan lainnya kecuali tangan dan kakinya saja.

    Hukuman yang dijatuhkan berdasarkan atas perbuatan dan tujuannya adalah sebagai tindakan pencegahan dan bukan sebagai pembalasan.

  • Kesembilan, Semakin besar anak, semakin bertambah fungsi agama baginya, misalnya pada umur 10 tahun ke atas, agama mempunyai fungsi moral dan sosial bagi anak.

Anak akan gembira untuk ikut aktif dalam upacara dan kegiatan keagamaan, misalnya sembahyang berjamaah dan belajar mengaji bersama di masjid atau musholla, ikut membantu dalam pengabdian sosial keagamaan seperti membagi zakat fitrah dan daging kurban.

Dengan demikian anak akan menyadari bahwa nilai-nilai agama lebih tinggi dari nilai-nilai pribadi atau nilai-nilai keluarga. Anak akan mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, akan tetapi kepercayaan masyarakat. Maka sembahyang yang berjamaah, pergi ke masjid beramai-ramai, dan ibadah sosial sangat menarik bagi anak.

Anak akan merasakan bahwa ia dan masyarakat dihubungkan melalui kepercayaan kepada Tuhan dan ajaran agama, maka anak akan menerima ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum agama agar ia dapat menyesuaikan diri dalam masyarakat.

Pertumbuhan agama itu tidak terjadi sekaligus matang, akan tetapi melalui tahapan-tahapan pertumbuhan, yang merupakan tangga yang dilaluinya satu persatu, dari keluarga, sekolah dan akhirnya masyarakat (Daradjat, 1989:114).

Nah itulah ulasan panjang lebar yang kami sampaikan. Semoga bermanfaat ya sahabat…

Jika anda membutuhkan kambing Aqiqah atau Qurban, kami Aqiqah Berkah siap menjadi mitra aqiqah anda dalam pelaksanaan qurban dan aqiqah.

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
TELPON/SMS : 085749622504

This image has an empty alt attribute; its file name is Desain-128-1-1009x1024.jpg

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *