Kambing Qurban Murah Depok

Kambing Qurban Murah Depok

Hai para sahabat Aqiqah Berkah yang berbahagia, ulasan kali ini mengenai Kambing Qurban Murah Depok.Tapi sebelumnya Simak ya artikel berikut ini…

Kurban di Dalam Islam

Menilik asal muasal pengertiannya, kurban berasal dari kata dasar qaraba. Secara harfiah kata qaraba mengandung pengertian mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan secara sosiologis kata qaraba memiliki cakupan makna yang sangat luas.

Menunjuk pada pengertian sebagaimana disebutkan diatas, maka seorang Muslim dapat dikatakan dekat kepada Allah jika orang yang bersangkutan merasa dekat dengan sesama, lebih-lebih kepada orang-orang yang selalu berada dalam kekurangan dan penderitaan.

Di sinilah makna sosial dari istilah kurban yang sebenarnya. Seekor hewan kurban hanyalah wujud dari keharusan untuk mengorbankan harta benda milik kita demi kemaslahatan dan kepentingan orang banyak yang merasa membutuhkan. Inilah bentuk kecintaan kepada Allah yang maujud dengan kecintaan terhadap sesama.

Menurut Ghufron A. Mas’adi, kurban berasal kata dari qaraba yang artinya mendekatkan. Segala jenis tindakan atau amalan yang membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Secara khusus, istilah ini berarti penyembelihan binatang kurban pada hari Idul Adha (hari raya penyembelihan kurban).

Fahmi Amhar dan Arum Harjanti, mengatakan bahwa menyembelih binatang kurban adalah mengenang kepatuhan Ibrahim dan keikhlasan Ismail akan perintah Allah.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari pada kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah yang telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kapada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kemudian pengertian kurban yang lain adalah kurban merupakan binatang yang disembelih guna ibadah kepada Allah pada hari raya haji dan tiga hari kemudian (11 sampai 13) yang biasa kita sebut sebagai hari tasyriq.

Lain halnya dengan Ali Shariati dalam karyanya yang berjudul Hajj. Dia berpendapat bahwa dimaksudkannya berkurban yaitu karena ketiga berhala yang terdapat di Mina itu adalah patung-patung trinitas yang melambangkan tiga tahap kejahatan. Dan juga ketiga berhala tersebut melambangkan setan yang telah berusaha untuk memperdayakan Ibrahim. Seorang Muslim harus menempuh tiga tahap sebelum ia dapat membebaskan dirinya dari setiap macam perbudakan. Ia harus membuang ketamakan, mengalahkan sifat kebinatangan yang dicirikan oleh sikap mementingkan diri sendiri, dan naik ke tingkat Ibrahim dengan melakukan setiap sesuatu demi Allah.

Setelah menembak berhala yang terakhir tersebut, hendaklah segera berkurban. Shariati menjelaskan bahwa tahap terakhir dari evolusi dan idealisme adalah tahap kebebasan mutlak dan kepasrahan mutlak. Dahulu Ibrahim membawa putranya Ismail untuk dikurbankan di tempat ini (Mina). Dan kini kita berperan sebagai Ibrahim. Lantas siapakah Ismail kita yang merupakan simbolisme dari ibadah kurban sesungguhnya?

Dalam teori simbol yang dikemukakan oleh Paul Tillich, salah satu bahasa simbol yang dia ungkapkan adalah simbol sebagai sistem tanda umumnya. Dan juga diperkuat oleh pandangan Susane Langer dan Ernst Cassirer yang menjelaskan tentang posisi manusia sebagai homo simbolicum yang berkarya lewat tanda-tanda dari bidang yang paling konkret hingga sampai dengan tanda atau simbol keagamaan.

Selanjutnya Shariati dalam karya yang berjudul Hajj memberikan beberapa petunjuk atau tanda tentang apa dan siapa Ismail sebenarnya. Menurutnya, Ismail yang dia maksud adalah setiap sesuatu yang melemahkan iman, setiap sesuatu yang menghalangi perjalanan, setiap sesuatu yang membuat kita enggan menerima tanggung jawab, setiap sesuatu yang memikirkan kepentingan sendiri, setiap sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran, setiap sesuatu yang memaksa kita untuk melarikan diri, setiap sesuatu yang membuat kita mengemukakan alasan-alasan demi kemudahan dan setiap sesuatu yang membutakan mata dan menulikan telinga.

Ayat yang memerintahkan kurban adalah: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban.” Asbabun nuzul dari ayat ini adalah Jibril datang kepada Rasulullah pada peristiwa Hudaibiyyah dan memerintahkan kurban serta salat.

Rasulullah segera berdiri berkhotbah, kemudian salat dua rakaat dan menuju ke tempat kurban lalu memotong kurban.

Muhammad Abduh menafsirkan ayat tersebut dengan menjadikan salat semata-mata demi Tuhan serta menunjukkan sembelihan hewan kurban itu kepada Allah. Itu dikarenakan hanya Allah-lah pemelihara dan pelimpah segala kenikmatan bagi setiap diri manusia.

Dalam meneliti “keagamaan keagungan” sunah berkurban, kita dapat memahami betapa Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya yang dicintai untuk sesuatu yang besar, yaitu pengabdiannya kepada Tuhan. Kurban adalah pengabdian suci dan merupakan ujian terhadap ketabahan dan kekuatan iman seseorang untuk mencapai sesuatu yang besar. Memang kurban harus banyak diberikan, malah tiada kebahagiaan tanpa ada pengorbanan dan tidak ada sia-sia pengorbanan untuk menyukseskan segala macam bidang pembangunan dan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur pun diperlukan banyak pengorbanan, baik tenaga, harta, dan pikiran.

Dalam semangat berkurban yang ditunjukkan dengan rasa keikhlasan, akan menghasilkan sebuah amal dan sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan. Dalam sejarah perjuangan, Rasulullah beserta para sahabatnya tak pernah meninggalkan semangat berkurban.

Pengorbanan yang mereka lakukan tak pernah sia-sia. Harapan kemenangan yang mereka cita-citakan tidak pernah padam, karena yakin bahwa Allah selalu menyertai perjuangan mereka. Hanya dengan pengorbanan yang ikhlas kepada Allah saja yang akan membuahkan hasil perjuangan dakwah. Demikianlah ketika hamba Allah senantiasa mengobarkan dalam dadanya semangat berkurban, Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya berjuang sendiri. Allah akan membantu dalam setiap usaha yang dilakukannya. Segala sesuatu yang telah dikurbankan di jalan Allah merupakan amal yang pasti diperhitungkan. Harta dan diri kita merupakan aset yang besar untuk meraih pahala Allah manakala dapat tersalurkan ke jalan-Nya. Inilah yang disebut dengan orang yang berbuat kebaikan.

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Di dalam masalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya pun dituntut sebuah pengorbanan yang besar sebagai bukti atas kecintaan tersebut. Tingkat keimanan seorang Mukmin terlihat dari kadar pengorbanan yang dikeluarkan untuk kejayaan (kemenangan) Islam. Semua yang kita miliki entah keluarga, pekerjaan, jabatan, kedudukan, harta kekayaan yang melimpah, itu hanyalah sebagai ujian.

Oleh karena itu cara pemanfaatan yang paling tepat adalah dengan menjadikan sebagai wasilah (alat) untuk menuju ketakwaan kepada Allah, bukan sebagai ghayah (tujuan) kehidupan. Berkurban dengan semua itu demi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kisah Nabi Ibrahim mengandung teladan (ibrah) yang jelas akan sebuah pengorbanan. Betapa besar pengorbanan yang dilakukan Ibrahim. Itulah yang disebut dengan ridha Allah. Nabi Ibrahim merupakan sosok keluarga yang ideal. Keluarganya telah dipersembahkan hanya kepada Allah, dan bukan kepada selain-Nya, sehingga Allah memuji dan meridainya. Pengorbanan yang besar hanya bisa dilakukan dengan kepasrahan dan kesabaran yang besar pula serta didasari tawakkal kepada Allah SWT.

Seharusnya setiap manusia berbuat demikian. Cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh lebih diutamakan daripada cinta kepada keluarga, cinta kepada jabatan, cinta kepada kedudukan yang tinggi, ataupun cinta kepada harta yang melimpah. Jika telah melakukan hal yang demikian, maka derajat takwa akan diraih. Dengan kata lain takwa akan diperoleh manakala kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah atau syariat-Nya, yang di dalamnya ada tuntutan untuk melakukan suatu pengorbanan.

Ada beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari suatu pengorbanan yang ikhlas, di antaranya:

  1. Nilai setiap amal bukan sekadar dilihat dari zahir dan kulit luarnya saja, tetapi justru tergantung pada motivasi yang melatarbelakangi amalan tersebut. Manakala bertolak dari niat ikhlas dan ketakwaan, sampailah kepada Allah. Sebaliknya ketika tidak ikhlas, tidak akan sampai kepada Allah.
  2. Niat ikhlas dan ketakwaan itu harus dibarengi dengan cara-cara yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Modal keikhlasan saja tanpa dibarengi cara yang benar akan menyebabkan amal tersebut tertolak. Oleh karena itu para ulama memberi kaidah dan syarat diterimanya suatu amal itu adalah ikhlas dan benar.

Jadi kurban yang diterima oleh Allah dan mendapatkan ridha-Nya adalah yang berangkat dari niat ikhlas dan ketakwaan serta melaksanakannya sesuai ajaran Rasulullah.

Kurban sebenarnya sudah dikenalkan Allah pertama kali kepada anak-anak Nabi Adam:
Ceritakanlah kepada mereka (manusia) kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil); ia berkata (Qobil), “Aku pasti membunuhmu.” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah (hanya) akan menerima (kurban) dari orang- orang yang bertakwa.”

Menurut ayat tersebut, upacara kurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam, hanya bentuknya berbeda. Kurban sekarang memang dikaitkan dengan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim tentang penyembelihan putranya, Ismail. Dikatakan dalam Alquran bahwa sampai hari menjelang tua, Nabi Ibrahim belum dikarunia putra.

Sekalipun demikian, Nabi Ibrahim tidak berputus asa dari rahmat Allah untuk mendapatkan keturunan. Atas ikhtiar dan doa Nabi Ibrahim yang tak pernah putus asa itu, Allah berkenan memberi kabar gembira dengan akan datangnya seorang putra yang saleh (Ismail), yang akan melanjutkan misi kenabiannya. Namun, kebahagiaan keluarga Ibrahim terusik sewaktu anak yang didambakannya itu lahir.

Tak lama kemudian Nabi Ibhaim diperintahkan agar Ismail dan ibunya (Hajar) dibawa dan ditempatkan di padang pasir yang tandus dan gersang, yang dikenal sebagai kota Mekah sekarang.

Untuk mengetahui berapa tingkat keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim, Allah memberikan wahyu kepadanya agar menyembelih anaknya, Ismail. Putra yang sangat disayangi dan menjadi buah hati selama ini ternyata harus disembelih dengan tangannya sendiri.

Betapa pilu rasa hatinya apabila teringat perintah penyembelihan terhadap anaknya itu. Namun apa boleh dikata, kecintaan kepada Allah tidak boleh dikalahkan dengan kecintaan kepada anak. Perintah Allah untuk menyembelih anaknya harus dilaksanakan dengan hati yang amat berat.

Ismail putranya lalu dipanggil dan diberitahu mengenai perintah Allah tersebut. Ternyata Nabi Ismail putranya bukannya merasa susah dan khawatir, melainkan justru bersemangat mendorong ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim, untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah. Nabi Ismail pasrah, menyerahkan sepenuhnya yang bakal terjadi atas dirinya kepada Allah.

Begitu pula Nabi Ibrahim akhirnya menjadi mantap dan ikhla semurni-murninya melaksanakan perintah Allah dengan menyembelih putranya yang tercinta di Mina.

Menghadapi hal ini, Ibrahim meminta pendapat putranya dengan berkata:
Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu. Mendengar pertanyaan bapaknya tersebut, Ismail menjawab dengan tenang:
Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatkan termasuk orang yang sabar. Dan tatkala keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan putranya, turunlah malaikat yang berseru:
Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpimu. Sesungguhnya yang demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan (domba) yang besar.

Kejadian ini diperingati dan dijadikan syariat dalam agama Islam dengan mengadakan kurban hewan pada 10 Zulhijah. Dan setiap kali Nabi Ibrahim mendengar setan yang menggodanya, dijadikan manasik dalam ibadah haji, yaitu melempar jumrah tiga kali. Ali Shariati menggambarkan ketiga berhala itu merupakan lawan dari ketiga tahap yang dilalui dalam penunaian ibadah haji. Berhala yang pertama (jumrah ula) adalah lawan dari tahap Arafat. Berhala yang kedua (jumrah wustha) adalah lawan dari tahap Masyair. Berhala yang ketiga (jumrah uqba) adalah lawan dari tahap Mina.

Jika pada hari raya Idul Fitri fuqara’ dan masakin digembirakan dengan pembagian beras zakat fitrah, pada waktu Idhul Adha mereka digembirakan dengan pembagian daging kurban. Suatu garis sosial yang demikian tinggi dalam Islam di mana fakir miskin setiap saat harus selalu mendapat perhatian bantuan pangan dan tidak boleh dilupakan.

Selanjutnya Rasulullah selalu menghidupkan kembali kurban. Dalam hajinya, beliau berkurban seratus ekor onta, dan beliau pernah pula berkurban dengan dua ekor domba besar yang bertanduk dan tanpa cacat. Seekor diperuntukkan bagi tebusan dirinya dan semua keluarganya, sedang seekor lagi untuk tebusan umatnya.

Menurut Ahmad Mursyidi, dari kisah keluarga Ibrahim di atas dapat diambil pelajaran yang sangat berharga, antara lain:

  1. Ikhtiar mesti disertai dengan doa permohonan kepada Allah.
    Ketidakberhasilan kita sekarang bukan mustahil karena kita terlalu banyak mengandalkan rasio, mengesampingkan doa permohonan kepada Allah.
  2. Keberhasilan merupakan karunia Allah sekaligus sebagai ujian apakah manusia bersyukur atau kufur, sebagaimana ungkapan Nabi Sulaiman, “Ini merupakan sebagian dari karunia Tuhanku, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau aku kufur.”
  3. Betapa penting kekompakan antara semua anggota keluarga (bapak, ibu, dan anak) dalam menyikapi suatu permasalahan, kekompakan yang dilandasi kacamata keimanan kepada Allah.

Namun jika ditinjau dari perspektif sejarah, panggilan Ibrahim untuk mengunjungi Baitullah, yang kemudian dikukuhkan oleh Nabi Muhammad SAW, mengandung makna yang mendalam mengajak manusia kepada ajaran tauhid (monotheist) yang berdimensi kepemilikan sosial. Kedua sisi ajaran Islam ini tidak dapat dipisahkan, ibarat sebuah mata uang logam dengan dua permukaan (two sides of the same coin). Memang tidak ada mata uang logam tanpa dua permukaan. Menyatunya kedua permukaan mata uang tersebut dalam satu kesatuan yang utuh menjadikan benda tersebut dapat disebut dengan uang logam. Menyatunya dimensi tauhid yang bersifat transendental fungsional dan dimensi kepedulian sosial yang bersifat historis-empiris dalam satu keutuhan pandangan hidup mencerminkan sikap hidup keberagamaan Islam yang otentik dan tulus.

Harga kambing di Kota Depok tahun 2016, antara lain :

  1. Harga Kambing Gibas
    Kambing gibas juga sering disebut juga kambing gimbal. Secara umum, kambing gibas memiliki bulu berwarna putih. Adapun harga dari kambing gibas ini mulai berkisar dari harga Rp.600.000,- hingga Rp.2.400.000,- di tahun 2016 ini. Adapun harga kambing gibas memiliki harga yang terbilang cukup rendah jika dibandingkan dengan jenis kambing lainnya.
  2. Harga Kambing Kacang (Jawa)
    Kambing jawa juga sering disebut pula kambing kacang. Harga dari jenis kambing ini sangat bervariasi hal ini didasarkan pada jenis umur, kondisi fisik, kesehatan dan jenis kelamin. Adapun harga dari kambing kacang atau kambing jawa ini mulai berkisar dari harga Rp.800.000,- hingga Rp.2.600.000,- di tahun 2016 ini.
  3. Harga Kambing Etawa
    Kambing etawa juga sering disebut pula Jamnapari. Kambing etawa berasal dari India. Kambing ini merupakan jenis kambing yang memiliki 2 fungsi yaitu kambing pedaging dan kambing penghasil susu. Adapun harga dari kambing etawa ini mulai berkisar dari harga Rp.1.700.000,- hingga Rp.5.000.000,- di tahun 2016 ini.
  4. Harga Kambing Peranakan Etawa (PE)
    Jenis kambing peranakan etawa merupakan hasil persilangan antara kambing jawa (lokal) dengan kambing etawa. Adapun untuk harga kambing jenis PE ini mulai berkisar dari harga Rp.1.000.000,- hingga Rp.3.200.000,- di tahun 2016 ini.

Nah mungkin itu yang bisa kami sampaikan. uraian di atas bisa menjadi patokan anda untuk membeli kambing yang berkualitas. Jadi sebelum membeli kita liat dulu kambing yang akan kita beli, sehat ataukah tidak. jika membeli kambing haruslah sangat berhati-hati. Tapi para sahabat tidak perlu kawatir untuk membeli kambing, di Aqiqah Berkah tempatnya kambing yang berkualitas, sehat, tidak cacat dan terbaik. Dan di ambil dari kandang sendiri, hasil peternakan sendiri. Harga kambing akikah di Aqiqah Berkah lebih terjangkau, apabila dibandingakan dengan yang lainnya. Untuk informasi dan pemesanan anda bisa menghubungi nomor di bawah ini.

Informasi dan Pemesanan :
WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah Anda-_-

Tags: , , , , , ,