Aqiqah Berkah Madiun

Aqiqah Berkah Madiun

Hello kawan-kawan yang berada di madiun. Kini bagi anda yang belum beraqiqah, layanan aqiqah hadir di madiun untuk membantu pelaksanaan aqiqah anda. Sebelum beraqiqah sebaiknya anda tahu dulu apa itu aqiqah, hukum aqiqah, hikmah aqiqah, dan syarat hewan aqiqah. Untuk jelasnya baca di bawah ini agar lebih jauh lagi tahu mengenai aqiqah. Tapi ulasan yang awal, kami akan mengulas sedikit mengenai makanan khas Madiun. Mari kawan…

pecel madiun

berikut ini beberapa makanan khas madiun, antara lain :

1. Sentra Ayam Panggang Madiun
Setelah malam makan soto, Siangnya Anda musti menyambangi Desa Gandu di Kelurahan Karangrejo. Desa ini menjadi pusat Ayam Panggang di seluruh Madiun. Usaha turun-temurun ini tidak hanya tersedia sebagai oleh-oleh, ayam panggang di sini juga dapat dinikmati di tempat. Anda bisa memilih untuk menyantap ayam kampung atau negeri. Rasa yang disuguhkan adalah bumbu pedas dan tumbar bawang atau disebut bumbu gurih.

Harga ayam panggang berkisar antara Rp60 ribu sampai Rp100 ribu. Kebanyakan gerai ayam buka mulai pukul 04.00 sampai 21.00.

2. Nasi Pecel Madiun
Nasi yang masih hangat serta sayuran yang direbus kemudian disiram oleh sambal kacang di pincuk (wadah dari daun pisang) membuat makanan ini memiliki cita rasa yang khas dan nikmat serta cocok untuk menu pagi, siang maupun malam.

Pembeli bisa memilih lauk sesuai seleranya. Ada gorengan tahu, tempe, ikan, ayam, sate telur puyuh, juga ati-empela dan peyek kacang. Pecel asli Madiun yang bisa menjadi rekomendasi saat Anda di Madiun ada Warung Pecel Pojok di Jalan Cokroaminoto 117, dan Nasi Pecel Yu Gembrot di Pasar Besi Raya, Jalan Imam Bonjol.

3. Sego Jotos
Sego Jotos atau Nasi Jotos merupakan salah satu makanan khas di Kab Madiun dan sekitarnya. Walau tidak sepopuler nasi pecel, makanan satu ini sangat populer di masyarakat sekitar. Dinamakan jotos karena porsi nasinya yang sebesar kepalan pria dewasa, disertai lauk berupa telur, tempe atau tahu dan sambal dan beberapa aksesoris tambahan bisa berupa mie, atau bihun dengan pembungkus daun.

Sego Jotos biasanya dijual saat sore hari dan menjadi semacam teman nongkrong orang-orang. Ada beberapa tempat di Madiun yang terkenal dengan kelezatan nasi jotosnya seperti di Jalan Mangga, Jalan Salak, MT Haryono, dan Mayjend Pandjaitan.

4. Dawet Suronatan
Terletak di jalan yang sama dengan Depot Tahu Telur diatas, Dawet Suronatan merupakan favorit saya sejak dahulu. Dawet mungkin lebih terkenal dengan sebutan ‘cendol’. Dawet suronatan mempunyai presentasi yang lumayan unik. Mereka disajikan didalam mangkuk yang lumayan kecil (saya biasanya habis lebih dari dua porsi kalo disana). Dawet suronatan juga memiliki komposisi yang lumayan unik. Selain cendol, mereka juga menggunakan bubur ketan hitam, bubur sumsum, dan tape sebagai campurannya. Saya biasanya memesan dawetnya tanpa tape, karena ga terlalu doyan.

5. Brem
Brem juga merupakan makanan khas Kota Madiun. Makanan hasil fermentasi ini mempunyai cita rasa yang khas saat di makan. Ada sensasi rasa dingin di lidah saat makan Brem ini. Tidak hanya diminati sebagai oleh-oleh, masyarakat di Kota Madiun juga menggemari makanan ini sebagai camilan. Harganya pun sangat terjangkau. Dan saat ini Brem tidak hanya memiliki satu rasa tetapi udah banyak di kembangkan menjadi beraneka ragam. Dengan mudah kita bisa mendapatkan Brem di Pusat oleh-oleh yang ada di Kota Madiun. Di kota luar Madiun pun terkadang kita juga masih bisa menjumpai camilan khas ini.

Nah itulah beberapa makanan khas madiun yang mungkin membantu anda semuanya yang lagi berkunjung ke madiun. Selanjutnya ulasan berikut mengenai aqiqah. Yukkk mari….

kambing aqiqah
Pengertian Aqiqah
Menurut bahasa aqiqah artinya memotong asalnya dinamakan aqiqah, karena dipotongnya leher binatang dengan penyembelihan itu. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong. Ada pula yang mengatakan bahwa aqiqah itu asalnya ialah rambut yang terdapat pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut ini disebut aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba atau kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke tujuh, empat belas atau dua puluh satu. Jumlahnya 2 ekor untuk bayi laki-laki dan 1 ekor untuk bayi perempuan.

Hukum Aqiqah
Sebagian ilama menyebut aqiqah dengan istilah nasikah atau dzabihah (sembelihan). Mayoritas ulama pun sepakat menyatakan bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkad, baik bagi laki-laki maupun bayi perempuan. Sebuah sunnah yang sanagat dianjurkan Nabi Muhammad SAW.

Mazhab Syafi’i dan mazhad Hambali yang menyatakan hukum aqiqah tergolong sunnah muakkad. Sementara menurut mazhab Hanafi, hukum aqiqah adalah mubah (tidak berdosa dan tidak pula berpahala apabila dilakukan). Sedangkan menurut mazhab Maliki, hukum aqiqah hanya bersifat anjuran.

Kalangan mazhab Syafi’i dan mazhab Hambali menyatakan aqiqah sebagai sunnah muakkad berdasarkan hadist Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
“setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR Ahmad dan Asbabus Sunan).

Adapun pengertian tergadai dalam hadist tersebut berlaku bagi anak yang dilahirkan, bukan untuk ornag tuanya. Maksudnya, agar sang anak terbebas dari kungkungan setan yang selalu mengganggu dan berusaha mencelakakannya (at-Thiflu wa Ahkamuhu hlm. 179)

Syarat Binatang Aqiqah
Kebanyakan para ulama berpendapat bahwa semua binatang yang disembelih untuk aqiqah sama dengan binatang untuk qurban. Bila untuk qurban binatang itu sah untuk disembelih, hal itu berlaku juga untuk binatang yang disembelih untuk aqiqah.

Menurut Malik, aqiqah sama dengan qurban, kita tidak boleh menyembelih untuk aqiqah, binatang yang cacat, kurus, berpenyakit dan yang kakinya patah. Binatang betina sama halnya dengan binatang qurban, boleh juga disembelih.

Mayoritas ulama berpendapat, bahwa usia binatang yang disembelih untuk aqiqah sama dengan usia binatang untuk qurban. Dapat dikatakan bahwa persyaratan binatang untuk aqiqah sama dengan syarat binatang untuk qurban yaitu binatang yang baik, gemuk dan tidak cacat.

Prof. Dr. Ramayulis dkk, mengatakan bahwa binatang yang akan diaqiqahkan mempunyai beberapa syarat, yaitu:

  1. Hendaknya sembelihan itu tidak cacat. Berdasarkan alasan ini, tidak sah mengorbankan binatang yang buta total, pincang, terpotong telinganya dan sebagainya.
  2. Hendaknya binatang itu berumur satu tahun atau lebih atau memasuki dua tahun, jika binatang itu biri-biri atau kambing.
  3. Tidak boleh kooperatif, misalnya tujuh orang bergabung untuk melaksanakan aqiqah. Sebab, jika cara kooperatif itu sah maka tujuan untuk mengaqiqahkan anak itu tidak tercapai.
  4. Daging-daging yang diaqiqahkan itu hendaklah dibagi-bagikan kepada orang lain, dan diutamakan dibagi-bagikan kepada fakir miskin.
  5. Dianjurkan agar aqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan.
  6. Apa yang sah di dalam qurban adalah sah di dalam aqiqah, ditinjau dari segi maknanya, bersedekahnya dan menghadiahkannya.

Persyaratan tersebut sesungguhnya untuk melatih agar senantiasa memakan sesuatu yang terbaik, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (QS. Al-Baqarah: 172).

Yang dimaksud dengan kata “Thayyib” (baik) adalah yang baik menurut penelitian para ahli atau dengan kata lain yang bergizi. Kata “Thayyib” dari segi bahasa berarti sesuatu yang telah mencapai puncak dalam bidangnya.

Dalam ayat di atas, menjelaskan, kepada orang-orang muslim yang beriman untuk memakan rizki yang baik-baik. Maksudnya yang bersih serta halal yaitu makanan yang mempunyai nilai gizi yang tinggi, bukan makanan yang basi, kotor dan sebagainya.

Waktu Ibadah Aqiqah
Jumhur ulama berpendapat bahwa aqiqah itu hanya berlaku bagi anak-anak kecil saja berdasarkan hadist yang menyatakan bahwa tiap-tiap anak tergadai pada aqiqahnya yaitu dengan menyembelih binatang aqiqah pada hari ketujuh dari hari kelahirannya.

Tetapi ada pendapat yang menunjukkan bahwa keterikatan dengan hari ketujuh itu bukan merupakan suatu keharusan, melainkan hanya merupakan suatu anjuran. Jika diaqiqahi pada hari keempat, kedelapan, kesepuluh atau setelah itu, maka aqiqah itupun telah cukup.

Ada yang mengatakan bahwa menyembelih pada hari ketujuh, hanya merupakan keutamaan, Asy-Syafi’i berpendapat, aqiqah boleh disembelih sebelum atau sesudah hari ketujuh asal anak tersebut belum baligh.

Terdapat perselisihan pendapat para ulama menyangkut hari menyembelih aqiqah. Namun kita harus berpegang kepada hadist yang shahih mengenai masalah ini, ialah kenyataan bahwa Rasulullah SAW menyembelih aqiqah untuk kedua cucunya pada hari ketujuh kelahirannya.

Imam Malik berpendapat, hari kelahirannya tidak dihitung kecuali jika ia lahir malam hari, sebelum terbit fajar. Kelihatannya batasan hari tersebut merupakan anjuran saja. Jika ia disembelih pada hari keempat, kedelapan, kesepuluh atau sesudah itu, maka itu boleh saja. Demikian pula, yang dilihat adalah hari penyembelihannya, bukan hari dimasak dan dimakannya.

Menurut Drs. RS. Abdul Aziz, aqiqah itu waktunya sejak anak itu lahir dan tidak ada batas waktunya. Kalau anak itu telah baligh dan aqiqahnya belum dilakukan, maka sunnah ia sendiri melakukannya.

Dari beberapa pendapaat di atas, maka dapatlah kita pinjam istilah waktu ada’ dan waktu qadha’ dalam sebuah kewajiban.

Waktu ada’ adalah waktu yang tepat atau kewajiban yang dilaksanakan tepat pada waktunya. Sedangkan waktu qadha’ adalah kewajiban yang dilaksanakan pada waktu yang lain.

Waktu ada’
Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Samurah seperti yang diterangkan di muka, jelaslah waktu ada’ atau waktu yang tepat untuk mengaqiqahkan anak adalah pada hari ketujuh dari kelahiran anak atau pada saat anak berusia tujuh hari. Yaitu bersamaan dengan acara mencukur rambut kepalanya serta menamainya.

Apabila aqiqah bisa dilaksanakan tepat pada hari ketujuh dari kelahiran anak tentu akan lebih baik dan lebih afdhal dan sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah SAW.

Waktu qadha’
Istilah qadha’ dalam hal ini menjiplak istilah al-Mawardi, salah seorang ulama dari kalangan mazhab Syafi’i dalam kitabnya Al-Uddah dan Al-Hawi, ia menyatakan: “sesungguhnya aqiqah (yang dilaksanakan) setelah hari ketujuh (dari kelahiran anak) adalah pelaksanaan qadha’.

Pernyataan ini menujukkan bahwa aqiqah boleh dilaksanakan pasca pencukuran dan penamaan anak. Di sisi lain hal itu mengisyaratkan pula bahwa sunnahnya aqiqah tidak akan gugur karena berlalunya hari ketujuh dari waktu kelahiran anak.

Pendapat (qaul) Mukhtar, yaitu pendapat terpilih para ulama dari kalangan mazhab Syafi’i menyatakan bahwa waktu aqiqah masih berlaku pasca hari ketujuh kelahiran anak dengan urutan sebagai berikut:

  1. Jika pada hari ketujuh masih belum mampu, maka aqiqah boleh dilaksanakan ketika masa nifas ibu berakhir.
  2. Jika sampai masa nifas si ibu bayi berakhir dan belum mampu maka aqiqah boleh dilaksanakan hingga berakhirnya masa menyusui.
  3. Jika masa-masa menyusui telah berakhir dan belum mampu mengaqiqahkan juga, maka aqiqah dianjurkan agar dilaksanakan hingga anak berusian tujuh tahun.
  4. Jika usia tujuh tahun bagi si anak telah terlewati dan belum mampu mengaqiqahkan maka dipersilahkan mengaqiqahkannya sebelum anak dewasa.
  5. Jika anak telah berusia dewasa maka gugurlah kesunnahan aqiqah bagi orang tuanya dan dipersilahkan anak untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri.

Aqiqah pada dasarnya adalah sebuah kesunnahan yang diberlakukan bagi orang tua atau wali yang menanggung nafkah anak yang bersangkutan. Namun mengingat dalam qaul Mukhtar dikatakan bahwa setelah anak dewasa dan orang tuanya belum mampu mengaqiqahkannya, kemudian anak tadi dipersilahkan untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri, maka ada beberapa pendapat:

  1. Pendapaat qaul tersebut ternyata didukung pula oleh pendapat Ar-Rafi’i dan pendapat sebagian ulama lainnya. Imam Ar-Rafi’i mengemukakan bahwa Nabi SAW menyembelih aqiqah untuk dirinya sendiri sesudah diangkat menjadi Nabi. Yang lain juga mengemukakan alasan yang sama dan menambahkan bahwa kejadian itu diturunkan sesudah surat Al-Baqarah, tetapi hadist ini lemah dipandang dari semua sanadnya.
  2. Imam Syafi’i telah menentukan bahwa seseorang tidak boleh menunda aqiqah karena dirinya sendiri. Pendapat ini juga diikuti oleh An-Nawawi.

Dari keterangan di atas, menurut penulis, kecenderungan itu ada pada pendapat As-Syafi’i yaitu tidak perlu mengaqiqahkan diri sendiri. Mengingat sunnahnya aqiqah itu terletak pada pihak orang tua atau wali yang menanggung nafkah si anak.

Di lingkungan kita, mungkin ada kebiasaan mengaqiqahkan orang yang telah meninggal. Menurut penulis, jika menurut As-Syafi’i mengaqiqahkan diri sendiri saja tidak boleh, maka mengaqiqahkan orang tua yang sudah meninggalpun tidak perlu.

Dengan demikian patokan yang digunakan untuk aqiqah, tepatlah pada hari ketujuh anak itu dilahirkan itu lebih utamanya, jika pun ditunda, maka penundaan itu dapat dilaksanakan sesuai dengan pendapat (qaul) Mukhtar yang telah disebutkan di atas.

Nah itulah sedikit ulasan mengenai seputar Aqiqah. Semoga bermanfaat ya sobat… kini kami mau meneruskan pembahasan yang utama sesuai topik yakni Aqiqah Berkah Madiun.

Pasti kalian udah taukan.. di indonesia ini banyak sekali layanan aqiqah, jasa aqiqah, dan sejenisnya. Nah.. di Aqiqah Berkah Madiun ini menyediakan paket aqiqah madiun yang murah, praktis dan mudah yang berbeda dengan layanan atau jasa aqiqah lainnya. Kambing aqiqah yang berkualitas di ambil dari peternakan sendiri dan pastinya kambing yang terbaik memenuhi syar’i.

Jenis aqiqah yang ada di Aqiqah Berkah Madiun sebagai berikut :

1. Aqiqah Mandiri
• Dikirim ke rumah Sohibul Aqiqah.
• Wilayah Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, Tulungagung, Madiun dan Sekitarnya.
• Pilihan menu (pengganti sate) lapis, Krengseng, sate rebus, rendang, dendang ragi, rawon.

Aqiqah Mandiri Dengan Kambing Betina

mandiri
Aqiqah Mandiri dengan Kambing Jantan

mandiri1

2. Aqiqah Peduli (Tebar Aqiqah Berkah)
• Dikemas dalam benttuk walimatul aqiqah.
• Masakan di antar ke panti asuhan, masyarakat yang membutuhkan, pondok pesantren, desa binaan lengkap dengan nasi, kerupuk, buah dan air mineral.
• Shohibul aqiqah akan mendapatkan foto hewan aqiqah. Ucapan terima kasih dari wakil penerima aqiqah, laporan dan dokumentasi pelaksanaan aqiqah.

Aqiqah Peduli dengan Kambing Betina

peduli
Aqiqah Peduli dengan Kambing Jantan

peduli1

CARA MUDAH PEMESANAN Aqiqah Berkah Madiun, sebagai berikut:
1. Silahkan Anda telephone Kami, Kami akan memberikan penjelasan yang lebih detail.

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

2. Atau juga bisa Informasikan kepada Kami lewat SMS atau email: Nama Anak, Tempat tanggal lahir, Nama Bapak & Ibu, Tanggal permintaan pelaksanaan aqiqah, Alamat pengiriman laporan Aqiqah Anda.
3. Transfer dana ke nomor rekening lembaga (a.n. Peduli Dhuafa).

Bank Syariah Mandiri
NO. Rek. 703-691-2191
an. Peduli Dhuafa
BRI
NO. Rek. 0056-01002879-53-1
an. Peduli Dhuafa

4. Konfirmasikan kepada Kami bila sudah transfer.
5. Sesuai tanggal yang disepakati, aqiqah akan Kami laksanakan.
6. H+ 3 laporan Kami kirim via pos ke alamat yang ditentukan.
7. Laporan sampai di shohibul aqiqah (perkiraan H+5 dan seterusnya, mohon konfirmasi apabila Laporan Aqiqah sudah diterima atau belum sampai di tempat Anda)

Tags: , , , , , , ,