Aqiqah atau Qurban

Aqiqah atau Qurban

kambing-kacang
Hai para sahabat-sahabat …..kami mau mengulas soal,..Qurban dan Aqiqah nih. Mungkin kalian sudah pada tau kan soal Qurban dan Aqiqah?anggap saja sudahlah.:-) kini yang akan kami bahas bukan pengertian qurban ataupun pengertian Aqiqah. Tapi Hukum menggabungkan Qurban dan Aqiqah, mana yang lebih didahulukan. Yukkkkk…. mari di baca sareng-sareng…..;-)

Aqiqah

Pengertian Aqiqah
Aqiqah adalah menyembelih hewan ternak paa hari ketujuh dari kari kelahiran anak.

Hukum Aqiqah
Hukum aqiqah menurut syariat adalah sunnah bagi orang yang berkewajiban menanggung belanja anak tersebut. Bayi yang merupakan anak yang tergadai dan harus ditebus dengan aqiqah.

Syarat-Syarat Aqiqah
Syarat Aqiqah adalah sebagai berikut.

  1. Kulaitas binatang yang dipakai aqiqah sama dengan kualitas pada binatang qurban.
  2. Untuk seorang bayi dikurbankan seekor kambing, baik seorang bayi laki-laki, maupun seorang bayi perempuan. Ketika cucu Rasulullah Hasan dan Husain lahir, beliau memberi aqiqah kepada masing-masing dengan seekor kambing. Namun Rasulullah SAW., menganjurkan bahwa untuk seorang bayi laki-laki aqiqahnya dengan dua ekor kambing dan untuk seorang bayi laki-laki aqiqahnya dengan dua ekor kambing dan untuk seorang bayi perempuan cukup seekor kambing saja.

Cara Melaksanakan Aqiqah
Waktu memotong kambing aqiqah ialah sejak anak itu lahir (sebaiknya pada hari yang ketujuh dari kelahirannya), sampai tidak terbatas waktunya. Tetapi bila anak itu sudah baligh, sedang aqiqah belum dilaksanakan, ia bisa mengaqiqahkan diri sendiri. Artinya dia sendiri bisa membiayai aqiqahnya sendiri. Nabi pernah mengaqiqahkan diri, setelah beliau menjadi Nabi.

Qurban

Pengertian Qurban
Qurban adalah binatang yang disembelih pada hari raya haji dan tiga hari sesudahnya (tanggal 11 sampai 13), dengan maksud untuk beribadah kepada Allah SWT.

Hukum Qurban
Berqurban dengan menyembelih binatang-binatang , hukumnya sunat muakkad. Namun kalau dinazarkan hukumnya menjadi wajib dilaksanakan.

Keutamaan Qurban
Setiap ajaran islam sudah tentu mengandung faedah dan hikmah (rahasia) yang bermanfaat bagi manusia. Berqurban mengandung keutamaan sebagai berikut.

  1. Semangat Pengurbanan
    Dengan semangat berqurban akan tercapai cita-cita dan diraih kemajuan di segala bidang. Umpamanya kalau suatu masyarakat menghadapi pembangunan masjid atau sekolah, kemudian tidak ada yang mau berqurban untuk pembangunannya, niscaya masjid atau sekolah itu tidak akan terwujud. Maka di sinilah tampak berbagai bidang pengurbanan harus dilakukan dengan pikirannya, hartanya, maupun tenaganya sehingga selalu dilatih semangat berqurban.
  2. Ketaatan
    Taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya merupakan perwujudan dari pengabdian kepada Allah SWT, di antaranya melakukan ibadah qurban. Jadi, dalam berqurban terkandung nilai ketaatan yang amat tinggi.
  3. Tercapai Tujuan
    Dengan berqurban yang berarti melepaskan atau membelanjakan sesuatu yang berharga, dapat dicapai suatu tujuan yang lebih berharga daripada sesuatu yang diqurbankan. Dalam hidup kita banyak sekali tujuan-tujuan yang harus dicapai, dengan pengurbanan itulah diharapkan akan meraih tujuannya.
  4. Syarat-Syarat Berqurban
    Persyaratan berqurban itu sebagai berikut.
    • Orang yang berqurban beragama islam.
    • Kurban dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah.
    • Waktu pemotongannya pada tanggal 10 Dzulhijjah setelah shalat sunnah Idul Adha sampai habis waktu ashar.
    • Tanggal 13 Dzulhijjah.
    • Unta telah berumur 5 tahun. Sapi, kerbau sudah berumur 2 tahun.
    • Kambing sudah berumur 2 tahun.
    • Biri-biri, sudah berumur 1 tahun atau sudah tanggal giginya. Utamanya, berkurban dengan binatang yang mulus dan gemuk serta tidak cacat. Tidak cukup berqurban dengan binatang yang sifatnya sebagai berikut :
    – Jelas-jelas sakit
    – Sangat kurus
    – Sebelah matanya tidak berfungsi
    – Pincang
    – Seekor kambing atau domba untuk satu orang dan seekor unta, lembu atau kerbau untuk tujuh orang

Apa sih Hukum menggabungkan Qurban dan Aqiqah?
Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang membolehkan dan menganggapnya sah sebagai akikah sekaligus qurban dan ada yang menganggap tidak bisa digabungkan.

Pendapat pertama, berqurban tidak bisa digabungkan dalam akikah. Ini adalah pendapat malikiyah, syafi’iyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad rahimahullah.

Dalil pendapat ini antara lain, bahwa akikah dan qurban adalah dua ibadah yang berdiri sendiri, sehingga dalam pelaksanaannya tidak bisa digabungkan. Disamping itu, masing-masing memiliki sebab yang berbeda. Sehingga tidak bisa saling menggantikan.

Al-Haitami mengtakan :
“Dzahir pendapat ulama syafi’iyah bahwa jika seorang meniatkan satu kambing untuk qurban sekaligus akikah maka tidak bisa mendapatkan salah satunya. Dan inilah yang lebih kuat. Karena masing-masing merupakan ibadah tersendiri.” (Tuhfatul Muhtaj, 9/371).

Al-Hathab mengatakan :
“Guru kami, abu Bakr al-Fihri mengatakan, ‘jika ada orang yang menyembelih hewan qurbannya dengan niat qurban dan aqiqah maka tidak sah. Tapi jika dengan niat qurban dan untuk hidangan walimah hukumnya sah. Bedanya, tujuan qurban dan akikah adalah mengalirkan darah (bukan semata dagingnya). Sementara dua tujuan mengalirkan darah, tidak bisa diwakilkan dengan satu binatang. Sedangkan tujuan utama daging walimah adalah untuk makanan, dan tidak bertabrakan dengan maksud qurban yaitu mengalirkan darah, sehingga mungkin untuk digabungkan.” (Mawahibul Jalil, 3/259)

Pendapat kedua, boleh menggabungkan antara qurban dengan akikah. Ini merupakan pendapat madzhab Hanafi, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat beberapa tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirrin, dan Qatadah rahimahumullah.

Dalil pendapat ini, bahwa tujuan qurban dan aqiqah adalah beribadah kepada Allah dengan menyembelih. Sehingga akikah bisa digabungkan dengan qurban. Sebagaimana tahiyatul masjid bisa digabungkan dengan shalat wajib, bagi orang yang masuk masjid dan langsung mengikuti jamaah. Disebutkan Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (5/534).

Beberapa riwayat dari para tabi’in, diantaranya Hasan al-Bashri pernah mengatakan, “Jika ada orang yang berqurban atas nama anak maka qurbannya sekaligus menggantikan akikahnya”.

Dari Hisyam dan Ibn Sirrin, beliau berdua mengatakan, “qurban atas nama baik, itu bisa sekaligus untuk akikah.”
Qatadah mengatakan. “Qurban tidak sah untuknya, sampai dia diakikahi.”

Al-Buhuti mengatakan, “Jika akikah dan qurban waktunya bersamaan, dan hewannya diniatkan untuk keduanya maka hukumnya sah untuk keduanya, berdasarkan keterangan tegas dari Imam Ahmad.” (Kasyaful Qana’. 3/30)

Aqiqah dan Qurban, mana yang lebih didahulukan?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa aqiqah maupun qurban hukumnya sunah muakkad (yang sangat ditekankan). Disebutkan dalam riwayat Muslim dari sahabat Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu “alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihat hilal bulan dzulhijah dan kalian hendak berqurban maka jangan menyentuh rambut dan kukunya.”
Kalimat : ‘hendak berqurban’ menunjukkan bahwa qurban hukumnya sunnah dan tidak wajib.

Berdasarkan hal ini, yang terbaik adalah seseornag melaksanakan kedua sunnah tersebut bersamaan. Karena keduanya dianjurkan untuk dilaksanakan. Jika tidak mampu melakukan keduannya dan waktu aqiqah berbeda di selain hari qurban, maka hendaknya mendahulukan yang lebih awal waktu pelaksanaannya. Akan tetapi jika akikahnya bertepatan dengan hari raya qurban, dan tidak mampu untuk menyembelih dua ekor kambing untuk akikah dan satunya untuk qurban, pendapat yang lebih kuat, sebaiknya mengambil pendapat ulama yang membolehkan menggabungkan aqiqah dan qurban. Allahu a’lam.

Mungkin itu yang bisa kami sampaikan mengenai Kurban dan Aqiqah. Semoga ulasan di atas berguna dan bermanfaat bagi para sahabat Aqiqah Berkah semuanya.

Untuk Informasi dan Pemesanan Aqiqah dan Hewan Qurban Anda Bisa Menghubungi Nomor Berikut ini :

WA                             : +6281335680602

BBM                           : D801E13D

TELPON/SMS            : 085749622504

Tags: , , , , , ,