Akikah dan Qurban

Akikah dan Qurban

Haiiii sahabat Aqiqah Berkah, Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kita tetap di beri kesehatan sampai sekarang ini. Baik, kini kami akan mengulas tentang akikah dan qurban. Apa sih akikah itu? Dan apa sih qurban ituCekidot……

Aqiqah Berkah
Akikah

Pengertian ‘Aqiqah
Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya : memotong. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya leher binatang dengan penyembelihan itu. Ada pula yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah : Rambut yang terdapat pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Adapun menurut istilah agama, yang dimaksud ‘aqiqah itu ialah : Sembelihan yang disembelih sehubungan dengan kelahiran seorang anak, baik laki-laki ataupun perempuan pada hari yang ke tujuh sejak kelahirannya dengan tujuan semata-mata mencari ridla Allah.

Sejarah ‘Aqiqah
Syariat ‘aqiqah, yaitu menyembelih 2 ekor kambing jika anaknya laki-laki, dan seekor kambing jika anaknya perempuan, telah dikenal dan biasa dilakukan orang sejak zaman jahiliyah, namun dengan cara yang berbeda dengan yang dituntunkan oleh Nabi SAW bagi ummat Islam.

Buraidah berkata : “Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107]

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang pada masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW bersabda, “Gantilah darah itu dengan minyak wangi”. [HR. Ibnu Hibban dengan tartib Ibnu Balban juz 12, hal. 124]

Demikianlah sejarah syariat ‘aqiqah dalam Islam, dan dari riwayat-riwayat diatas serta riwayat-riwayat lain, tampak jelas bagaimana sikap agama tercinta ini dalam menghadapi adat yang sudah biasa berjalan dan berlaku pada masyarakat dan masih mungkin diluruskan. Tegasnya, Islam sesuai dengan fungsi diturunkannya yaitu sebagai lambang kasih sayang serta memimpin ke arah jalan yang serba positif, maka dalam menghadapi adat-istiadat yang sudah biasa dilaksanakan sekelompok manusia, menempuh tiga macam cara yaitu :

  1. Menghapusnya sama sekali, bila didalam adat-istiadat itu mengandung unsur-unsur kemusyrikan yang tidak mungkin diluruskan lagi, maupun hal-hal yang membahayakan keselamatan manusia itu sendiri; baik dari segi aqidah (rohani) maupun bagi tata masyarakatnya.
    Dalam hal ini Islam tidak dapat mentolerir atau membiarkannya hidup dan bersemi dalam kehidupan ummatnya, karena sesuai dengan kenyataan, bahwa petani yang pandai serta bertanggungjawab terhadap berhasil dan suburnya sang padi, tidak akan membiarkan hidup alang-alang dan rumput-rumput liar yang ada di sekeliling padinya.
  2. Sedang bila dalam adat-istiadat tersebut mengandung hal-hal yang bertentangan dengan agama akan tetapi masih dapat diluruskan, maka Islam datang untuk meluruskannya dan kemudian berjalan bersama-sama dengan Islam, sebagaimana masalah ‘aqiqah ini.
  3. Adapun adat-istiadat yang tidak mengandung unsur-unsur kemusyrikan dan kedhaliman serta tidak bertentangan dengan agama, maka Islam memelihara dan memberi hak hidup baginya untuk berkembang lebih lanjut dalam masyarakat tersebut tanpa sesuatu perubahanpun.

Akikah merupakan ibadah sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan, bagi orang yang mampu. Demikian menurut pendapat sebagian besar ulama. Ketentuan kambing yang disembelih untuk akikah ini sama dengan yang disembelih untuk kurban. Jika yang disembelih itu domba, maka dianjurkan yang telah berumur tidak kurang dari 6 bulan. Dan jika yang disembelih adalah kambing, maka dianjurkan yang telah berumur tidak kurang ari 1 tahun dan tidak cacat.

Hikmah aqiqah ini, antara lain, adalah sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Anugerahkan sekaligus untuk mendekatkan anka kepada-Nya sejak awal kehidupannya di dunia ini.

Keutamaan Akikah
Akikah memiliki keutamaan dan hikmah, di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan dari samurah bahwa Nabi SAW bersabda :
“Setiap anak yang baru lahir itu terpelihara dengan akikahnya yang disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh kelahirannya, ia dicukur dan diberi sebuah nama.”

Berdasarkan keterangan hadist di atas, bahwa pada hakikatnya Allah SWT akan melindungi anak dari segala macam bahaya yang menimpanya dengan akikah yang telah diberikan untuk anak. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada usia-usia bayi, anak sangat rentan dari bahaya yang menimpanya, karena pada saat itu daya tahan tubuhnya belum stabil.

Akikah dan Qurban, mana yang lebih didahulukan?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa akikah maupun qurban hukumnya sunah muakkad (yang sangat ditekankan). Disebutkan dalam riwayat Muslim dari sahabat Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu “alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melihat hilal bulan dzulhijah dan kalian hendak berqurban maka jangan menyentuh rambut dan kukunya.”
Kalimat : ‘hendak berqurban’ menunjukkan bahwa qurban hukumnya sunnah dan tidak wajib.

Berdasarkan hal ini, yang terbaik adalah seseornag melaksanakan kedua sunnah tersebut bersamaan. Karena keduanya dianjurkan untuk dilaksanakan. Jika tidak mampu melakukan keduannya dan waktu akikah berbeda di selain hari qurban, maka hendaknya mendahulukan yang lebih awal waktu pelaksanaannya. Akan tetapi jika akikahnya bertepatan dengan hari raya qurban, dan tidak mampu untuk menyembelih dua ekor kambing untuk akikah dan satunya untuk qurban, pendapat yang lebih kuat, sebaiknya mengambil pendapat ulama yang membolehkan menggabungkan akikah dan qurban. Allahu a’lam.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Aqiqah

  1. Kambing yang akan di sembelih mencapai umur minimal satu tahun dan sehat tanpa cacat sebagaimana persyaratan untuk hewan qurban.
  2. Jika bayi yang dilahirkan laki-laki, dianjurkan untuk menyembelih dua ekor kambing yang sepadan (sama besarnya), sedangkan bayi perempuan disembelihkan satu ekor kambing. Hal ini berdasar atas hadits dari Ummu Karaz al-Ka’biyah, Rasul saw. bersabda: “Bagi anak laki-laki (disembelihkan) dua ekor kambing dan bagi anak perempuan (disembelihkan) satu ekor. Dan tidak membahayakan kamu sekalian apakah (sembelihan itu) jantan atau betina” (H. R. Ahmad dan Tirmidzi)
    Hal di atas berlaku untuk orang yang dikaruniai rizqi yang cukup oleh Allah SWT. Sedangkan orang yang kemampuannya terbatas, diperbolehkan untuk meng’aqiqahi anak laki-laki maupun anak perempuan dengan satu ekor kambing. Hal ini berdasar atas hadits dari Ibnu ‘Abbas r.a.: “Bahwa Rasulullah saw. telah meng’aqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain dengan satu ekor biri-biri.” (H.R. Abu Dawud), dan juga riwayat dari Imam Malik: “Abdullah bin Umar r.a. telah meng’aqiqahi anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan, satu kambing-satu kambing.”
  3. Dianjurkan agar ‘aqiqah itu disembelih atas nama anak yang dilahirkan. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir dari ‘Aisyah r.a.: Nabi saw. bersabda: “Sembelihlah atas namanya (anak yang dilahirkan), dan ucapkanlah, ‘Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, bagi-Mu-lah dan kepada-Mu-lah ku persembahkan ‘aqiqah si Fulan ini.”Akan tetapi, jika orang yang menyembelih itu telah berniat, meskipun tidak menyebutkan nama anak itu, maka tujuannya sudah tercapai.
  4. Adapun daging aqiqah tersebut selain dimakan oleh keluarga sendiri, juga disedekahkan dan dihadiahkan.
  5. Disukai untuk memberi nama anak pada hari ketujuh dengan memilihkannya nama-nama yang baik, lalu mencukur rambutnya, kemudian bersedekah senilai harga emas atau perak yang setimbang dengan berat rambutnya. Dari Ali r.a. berkata: Rasulullah saw. memerintahkan Fatimah dan bersabda : “Timbanglah rambut Husain dan bersedekahlah dengan perak sesuai dengan berat timbangan (rambut)nya dan berikanlah kaki kambing kepada kabilah (suku bangsa)”.

Qurban
Dzulhijjah merupakan bulan yang sangat istimewa dan penuh makna. Sebuah riwayat menyatakan bahwa “Tidak ada suatu hari yang bila beribadah di dalamnya lebih disukai oleh Allah dibandingkan dengan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.” (Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)

aqiqah berkah dan qurban 2016
Di zona nol magnetik sana, tanah suci (Mekkah), tamu-tamu Allah berkumpul melaksanakan ibadah haji. Kalimat talbiyah pun bergema menyambut seruan Allah Swt. untuk mendekat kepadanya.

Sementara hambanya yang lain di tanah air, mencoba mendekat, menghampiri dan meraih cinta-Nya dengan berqurban. Qurban merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah sebagai sarana untuk mendekat kepadanya.

Oleh karena itulah kenapa kata qurban yang berasal dari qaruba yaqrubu qurban wa qurbanan sering kita maknai sebagai mendekat atau pendekatan. Sementara menurut istilah qurban berarti melakukan ibadah penyembelihan binatang dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Ibadah qurban merupakan pendidikan keikhlasan dalam beramal. Seorang Muslim yang berqurban pada setiap tahunnya berarti ia telah melakukan sebuah latihan beramal yang diliputi oleh rasa ikhlas. Ikhlas dalam beramal merupakan salah satu kunci dalam beribadah qurban, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabiullah Ibrahim a.s.

Apa Hukumnya Berqurban?
Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan) Kebanyakan Ulama mengatakan bahwa hukum berqurban adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan). Maksudnya orang yang belum mampu berqurban tidaklah berdosa. Tapi bagi orang yang mampu, makruh (dibenci) hukumnya bila tidak berqurban.

Wajib
Pendapat ini adalah pendapat madzhab Hanafi berdasarkan dalil sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan al-Hakim menshahihkannya). Isyarat Qurban dari kisah Ibrahim a.s.

Al-Qur’an menegaskan hakikat Qurban, melalui kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Isma’il tercinta dalam surah ash-Shafat ayat 102-109. Kisahnya begini; Nabi Ibrahim berkata kapada Nabi Ismail: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” Nabi Ismail menjawab seketika dengan tenang dan penuh keyakinan: “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, kau akan mendapatkanku—insya’allah—termasuk orang-orang yang sabar.”

Allah kemudian bercerita: “Tatkala keduanya telah berserah diri (tunduk pada perintah Allah) dan Ibrahim membaringkan anaknya (pelipisnya menempel di atas tempat penyembelihan), Kami segera memanggil (dari arah gunung): wahai Ibrahim, Sudah kau benarkan (dan kau laksanakan) apa yang kau lihat dalam mimpimu itu, sesungguhnya demikinlah Kami memberi balasan (kepadamu) dan juga kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh (perintah penyembelihan ini) adalah benar-benar ujian (bagi Ibrahim, dimana dengannya terlihat dengan jelas siapa yang ikhlas dan siapa yang tidak). Dan kami segera menebus anak (yang akan disembelih itu) dengan seekor sembelihan yang besar. Pun Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam sejahtera (dari Kami) buat Ibrahim, dan sebutan yang baik baginya (dari setiap manusia).”

Ada beberapa hal yang sangat menarik untuk kita garis-bawahi dari kisah Ibrahim dan anaknya Isma’il:

  1. Ajaran berqurban datangnya dari Allah Swt, sebuah ajaran yang agung, yang membuktikan kedekatan sang hamba kepada Rab-nya, sebuah proses pendakian yang suci menuju Allah Yang Maha Agung
  2. Kepribadian Nabi Ibrahim yang demikian total menunjukkan ketaatannya kepada Allah
  3. Kepribadian Nabi Ismail yang memahami keagungan perintah Allah
  4. Hakikat “qurban” merupakan salah satu ujian dari Allah, yang dengannya setiap mu’min bisa mengukur hakikat keimanannya, hakikat ketaatannya kepada perintah Allah, hakikat kedekatannya kepada Allah.

Pahala Bagi Orang yang Berqurban
Zaid bin Arqam bertanya kepada Rasulullah saw. “Apakah yang kita peroleh dari berqurban? “Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya pada setiap bulu yang menempel di kulitnya terdapat kebaikan.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

Fungsi Berqurban
– Merupakan realisasi takwa
– Untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah
– Untuk mengenang nabi Ibrahim a.s

Macam-macam Binatang Qurban
Hewan yang dapat dipakai untuk qurban adalah binatang ternak yaitu; unta, sapi, dan kambing. Hewan jantan lebih utama dari hewan betina, sebagaimana hewan yang tidak dikebiri lebih utama dari hewan yang dikebiri.

Kriteria Binatang Qurban

  1. Binatang hendaknya dipilih yang baik
  2. Nabi lebih mengutamakan kambing yang besar, gemuk, dan bertanduk.
  3. Ada empat macam cacat pada binatang yang menyebabkan tidak terpenuhinya syarat untuk berqurban, yaitu: 1) hewan yang buta, 2) hewan yang sakit, 3) pincang, 4) kurus kering tidak berdaging.
  4. Binatang yang akan disembelih hendaknya telah cukup umur (5 tahun untuk unta, 2 tahun untuk sapi, dan 1 tahun untuk kambing)

Jumlah Hewan Qurban

  1. Seseorang telah dianggap cukup melakukan ibadah qurban dengan menyembelih seekor kambing
  2. Untuk unta, sapi atau kerbau, satu ekornya dapat dipakai untuk tujuh orang Seekor unta juga boleh untuk sepuluh orang
  3. Satu ekor kambing juga boleh untuk satu keluarga

Waktu Penyembalihan

  1. Penyembelihan dilakukan pada hari raya ‘Idul Adha setelah selesai shalat ‘Ied (10 Dzulhijjah)
  2. Dapat juga dilakukan pada hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah)

Orang yang berhak menyembellih hewan Qurban

  1. Yang melakukan penyembelihan hewan qurban diutamakan dilakukan oleh orang yang berqurban (shahibul qurban)
  2. Apabila shahibul qurban berhalangan, maka boleh diwakilkan kepada tukang sembelih
  3. Apabila shahibul qurban berhalangan untuk menyembelih, dianjurkan untuk menyaksikan penyembelihan
  4. Penyembelih itu hendaknya orang muslim dan sudah akil baligh, baik laki-laki maupun perempuan.

Syarat dan Adab Penyembelihan

  1. Menyembelih hewan harus dilakukan dengan alat yang tajam yang dapat mengalirkan darah
  2. Tidak boleh menyembelih hewan dengan gigi atau kuku
  3. Sasaran yang dipotong adalah dua urat nadi yang ada di leher, tenggorokan dan kerong-kongan, agar binatang yang disembelih cepat mati
  4. Bila hewan itu menjadi buas atau bersembunyi, maka diperbolehkan mengembelihnya dengan benda tajam yang dapat mematikan
  5. Hewan yang disembelih hendaknya dihadapkan ke arah kiblat
  6. Ketika menyembelih hewan hendaknya membaca basmalah dan takbir

Pembagian Daging Qurban

  1. Daging qurban itu untuk tiga orang, yaitu; 1) shahibul qurban, 2) fakir miskin, 3) Sahabat, kolega, atau kenalan
  2. Daging qurban tidak boleh diberikan sebagai upah, baik untuk si pemotong atau pun ‘amilnya. Begitu juga kulit, kepala, atau apapun dari tubuh hewan qurban. Upah sebaiknya diambilkan dari selain bagian hewan qurban, yaitu harta yang lain selain hewan qurban tersebut.
  3. Shaibul qurban tidak boleh mengambil bagian daging qurban yang baik dan mensedekahkan yang buruk untuk orang lain.
  4. Hendaknya membagikan daging qurban dalam keadaan mentah dan belum dimasak
  5. Tidak ada larangan bagi non muslim untuk diberi daging qurban.

Nah mungkin itulah yang dapat kami sampaikan mengenai Qurban dan Akikah. Semoga apa yang kami sampaikan di atas tersebut berguna dan bermanfaat bagi anda semuanya. Amiinnnn….

Jika anda akan melakukan aqiqah, segera hubungi kami. Kami akan membantu pelaksanaan aqiqah anda.

Untuk Informasi dan Pemesanan bisa Menghubungi :

WA : +6281335680602
BBM : 7C0B38CE
TELPON/SMS : 085749622504

-_-Aqiqah Berkah Siap membantu Anda dalam Qurban atau Aqiqah-_-

Tags: , , , , , , , ,