Acara Akikahan

Acara Akikahan

Apa Aqiqah itu?
Secara bahasa aqiqah berarti rambut yang berada di kepala bayi yang baru dilahirkan dan aqiqah juga berarti pemotongan. dari asal kata itu juga jika seseorang disebut aqqawalidaihi berarti seseorang yang mendurhakai ibu bapaknya karena memutuskan hubungan baik dengan keduanya.

Arti aqiqah dalam syariat islam adalah memotong domba untuk bayi yang baru dilahirkan. Malah ada kalanya domba yang dipotong itu disebut aqiqah.

Ada lagi orang yang lebih senang mengucapkan nasikah sebagai pengganti kata aqiqah. Dari kata nasi-kah ini banyak juga disebutkan dalam hadist Nabi SAW.

Makruh Memecahkan Tulang Aqiqah
Perlu diperhatikan kepada yang bersangkutan untuk tidak memecahkan tulang-tulang aqiqah baik pada waktu disembelih maupun waktu dimakan. Tulang-tulangnya dipisahkan di persendiannya dengan maksud anatara lain untuk :

  1. Anjuran agar pada waktu diberikan mentah atau setelah dimasak terlihat menyenangkan bagi para fakir yang menerimanya, para tetangga yang melihatnya, dan bagi para pengantarnya.
  2. Menaruh rasa optimis terhadap kesehatan dan keselamatan anggota badan yang dilahirkan berhubung aqiqah itu di anggap sebagai penebus untuk si bayi.

Hewan yang Disembelih
Dianjurkan untuk menyembelih kambing. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang umurya berdekatan, sedangkan untuk anak perempuan seekor saja. Rasulullah Saw. Bersabda, “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Al-Tirmidzi).

Menurut para ulama Syafi’iyah, Hanafiyah, Hanabilah, dan Malikiyah, sembelihan aqiqah boleh berupa hewan yang biasa disembelih sapi adn unta.

Waktu ‘Aqiqah
Di muka telah dikutipkan sebuah hadits yang menunjukkan bahwa waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan ‘aqiqah adalah hari ketujuh. Hadits lain yang menguatkan hal itu antara lain adalah hadits Abdillah bin Wahb dari ‘Aisyah r.a.:
“Rasulullah saw. telah meng’aqiqahi Hasan dan Husain pada hari ketujuuh (dari kelahiran mereka), menamakan mereka dan memerintahkan untuk menjauhkan penyakit dari kepala (mencukur) mereka.

Akan tetapi, ada pendapat yang menunjukkan bahwa keterikatan dengan hari ketujuh itu bukanlah keharusan, melainkan suatu anjuran. Al-Maimuni berkata:
Aku bertanya pada Abdullah: “Kapankah anak itu di’aqiqahi?”. Abdullah menjawab, “Adapun ‘Aisyah telah mengatakan bahwa ‘aqiqah itu dilakukan pada hari ketujuh, hari keempat belas, atau hari ke duapuluh satu.”

Imam Malik berkata: Pada zhahirnya, keterikatan pada hari ketujuh itu adalah atas dasar anjuran. Andaikan (pada hari itu tidak dapat dilakukan), maka menyembelih pada hari keempat, kedelapan, atau kesepuluh atau sesudahnya, ‘aqiqah itu telah cukup.

Ringkasnya, jika orang tua mampu menyembelih ‘aqiqah pada hari ketujuh, maka hal itu lebih utama, sesuai dengan perbuatan Nabi saw. Namun jika hal itu menyulitkan, maka diperbolehkan untuk melakukannya pada hari ke berapa saja sebagaimana telah dikatakan Imam Malik. Wa-Llahu a’lam.

Proses Ibadah Aqiqah
Sebagaimana halnya walimatul ursy dan walimah khitan pada umumnya pesta aqiqah juga dilakukan dengan mengundang sanak keluarga, para famili, dan tetangga tanpa pandang bulu. Miskin, kaya, laki-laki dan perempuan boleh diundang. Tentu saja segala sesuatunya harus ditata sedemikian rupa sehingga tidak mengotori makna aqiqah yang merupakan sunnah Rasul.

Semuanya harus dilakukan dengan cara-cara yang islami, baik pengaturan tempat duduk, cara berpakaian maupun tata cara makan.

Bahkan guna menambah nilai spiritual aqiqah, ada baiknya jika dalam rangkaian acara aqiqah ini juga diselipkan ceramah agama. Materinya bisa tentang pendidikan anak, kewajiban anak terhadap orang tua, tanggungjawab orang tua terhadap anak dan sebagainya yang sekiranya relevan. Dengan demikian pihak keluarga dan para undangan tidak sekedar hadir untuk pesta makan, melainkan juga bisa mendapatkan tambahan ilmu sebagai bekal untuk menjalani kehidupan ke arah yang lebih baik.

Adapun waktunya bisa siang, sore atau malam sesuai kondisi. Misalnya pagi mengadakan pencukuran rambut dan pemberian nama, siangnya menyembelih kambing kemudian sore harinya digunakan untuk mendengarkan ceramah agama dan makan bersama.

Proses aqiqah pada dasarnya meliputi tiga kegiatan yang dilakukan secara bersamaan yaitu kegiatan menyembelih binatang aqiqah, mencukur rambut kepala anak dan menamainya. Namun mengingat sulitnya melaksanakan ketiga kegiatan secara bersamaan dalam satu waktu sekaligus. Maka pengertian “bersamaan” itu dapat kita artikan dengan serangkaian, yaitu serangkaian kegiatan yang meliputi penyembelihan binatang aqiqah, pencukuran rambut kepala anak dan pemberian nama anak.

Hal tersebut sesuai dengan hadist Nabi yang diriwayatkan dari Samurah yang telah disinggung di bagian atas. Di mana berdasarkan hadist tersebut, maka serangkaian kegiatan aqiqah didahului dengan menyembelih hewan aqiqah, kemudian diiringi dengan mencukur rambut kepala anak dan terakhir menamainya.

Berikut pembahasannya satu persatu:

1. Menyembelih Binatang Aqiqah
Menyembelih binatang untuk aqiqah harus dilakukan sesuai dengan cara yang telah disyari’atkan. Secara lebih terurai, cara menyembelih binatang aqiqah adalah sebagai berikut:

  1. Mengasah pisau hingga benar-benar tajam.
  2. Mengikat binatang dengan tali agar ketika disembelih tidak bebas bergerak sehingga tidak menyulitkan penyembelihan.
  3. Membaringkan binatang dengan lambung kiri menempel ke tanah sehingga tangan kiri orang yang menyembelih berada di sebelah kepala binatang dan kepala binatang ada di selatan.
  4. Penyembelih menghadap kiblat.
  5. Membaca do’a yang artinya :
    Dengan nama Allah. Allah maha besar. Ya Allah, aqiqah ini adalah karunia-Mu dan aku kembalikan kepada-Mu. Ya Allah, ini aqiqah………(sebut nama anak yang diaqiqahi), maka terimalah”.
  6. Pisau ditekan dengan kuat ke leher binatang, sehingga saluran pernapasan dan saluran makanan benar-benar putus.
  7. Penyembelihan bisa dilakukan sendiri atau boleh juga diwakilkan kepada orang lain.
  8. Penyembelih dalam keadaan berakal sehat.

2. Mencukur Rambut Kepala Anak
Mengiringi usainya penyembelihan binatang aqiqah, maka akan dilakukan rentetan kegiatan kedua, yaitu mencukur rambut kepala anak. Mencukur rambut yang disyari’atkan oleh agama saat pelaksanaan aqiqah adalah mencukur seluruh rambut kepala anak yang dibawa sejak dalam kandungan ibunya.

Mencukur rambut kepala anak sebaiknya dilakukan di hadapan sanak keluarga agar mereka mengetahui dan menjadi saksi. Boleh dilakukan oleh orang tuanya sendiri atau jika tidak mampu, bisa diwakilkan kepada ahlinya.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam mencukur rambut kepala anak, yaitu:
a. Dengan membaca basmallah.
b. Arah mencukur rambut dari sebelah kanan ke kiri.
c. Dicukur bersih (gundul) tidak boleh ada bagian yang disisakan sehingga kelihatan belang-belang.
d. Rambut hasil cukuran dan nilainya disedekahkan. Maksudnya, setelah anak dicukur, semua rambutnya ditimbang.

Berat timbangan rambut tersebut diganti dengan nilai emas dan perak. Nilai tukar emas atau perak tersebut bisa diwujudkan uang sesuai dengan harga emas atau perak di pasaran saat itu, lalu disedekahkan kepada fakir miskin.

Islam menganjurkan agar manusia selalu menjaga kesehatan anak dan dimulai sejak bayi karena membiasakan hidup bersih dan sehat hanya dapat dibentuk bila dipraktekkan sejak kecil. Pepatah mengatakan,”Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air”. Maka mulailah membangun hidup sehat dan bersih sejak anak dilahirkan dan terus dididik sehingga menjadi kebiasaan dalam hidupnya.

Mencukur rambut kepala anak adalah awal dari kebiasaan hidup bersih dan sehat yang diperintahkan agama. Oleh karena itu, bersihkanlah anak dengan mencukur seluruh rambutnya. Dengan demikian Islam telah mendidik jiwa bersih sejak lahir.

3. Menamai Anak
Rangkaian yang ketiga dari serentetan kegiatan aqiqah ialah menamai sang anak. Kegiatan menamai inilah yang biasanya digelar dalam bentuk upacara, dengan mengundang sanak kerabat serta para tetangga dekat.

Shakespeare mengatakan: “Apa arti sebuah nama”, namun tidak dapat dipungkiri, bahwa nama bisa menunjukkan identitas keluarga, bangsa bahkan akidah. Nama merupakan sarana yang mudah dan umum digunakan untuk mengenali sesorang dan memperlancar hubungan sosial. Dengan demikian ungkapan di atas, lebih merupakan peringatan agar orang tidak terjebak ke dalam penampilan lahiriah dan melupakan makna keberadaan manusia yang hakiki. Sebab, baik buruknya seseorang memang tidak terletak pada namanya, melainkan pada akhlak dan amal shalehnya.

Di dalam ajaran Islam, nama seseorang di samping sebagai panggilan atau pengenalan terhadap seseorang, juga berfungsi sebagai do’a. Berbagai kebiasaan yang berlaku di masyarakat adalah bahwa ketika anak dilahirkan, maka orang tua memilihkan sebuah nama untuk anaknya.

Nama yang baik mengandung ciri dan unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Bermakna dan berarti pujian, misalnya Ahmad atau Muhammad, artinya terpuji.
  2. Bermakna do’a dan harapan, misalnya Muhsin, artinya orang yang baik.
  3. Bermakna semangat, misalnya Syaifullah, artinya pedang Allah Oleh karena itu, pada tempatnyalah anak diberi nama yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Demikianlah keseluruhan prosesi aqiqah, yang diakhiri dengan makan dan do’a bersama, semoga anak yang diaqiqahi kelak bisa menjadi anak yang shaleh, yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, berbakti kepada orang tuanya serta berguna bagi agama, nusa, bangsa serta masyarakatnya.

Makna sebuah nama
“Apalah arti sebuah nama”, begitulah ungkapan dari Shakespeare yang begitu sering terdengar di masyarakat. Konsekuensinya nama hanyalah sebagai panggilan/identitas yang membedakan antara individu yang satu dengan individu yang lain.

Sehingga seringkali dalam pemberian sebuah nama yang dicari adalah lebih karena keunikannya bukan makna yang terkandung di dalamnya.

Namun bagi kami – dan sebagian besar orang Indonesia – nama bermakna doa atau cita-cita. Sehingga setiap panggilan terhadapnya merupakan doa baginya dan setiap mengingat namanya maka mengingatkan akan cita-cita kehadirannya ke dunia.

Kanjeng nabi pernah bersabda, “Sesungguhnya kalian akan diseru pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian, maka perbaguslah nama kalian”. (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban). Kanjeng nabi pun pernah mengganti nama yang tidak bagus, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Umar ra: “Sesungguhnya putri Umar diberi nama ‘Ashiyah (yang berdosa), maka Rasulullah saw mengganti namanya dengan Jamilah (cantik).” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nama Hafiz Alim Hidayat diilhami oleh sifat nabi Yusuf dalam Al Qur’an. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (hafizh), lagi berpengetahuan (alim)” QS. 12:55

Sifat Yusuf ini sangat dibutuhkan saat ini dan masa datang. Karena dibutuhkan jutaan yusuf untuk membangun umat – yaitu orang-orang yang tidak hanya jujur tetapi juga cerdas. Sedangkan Hidayat adalah nama ayahnya, yang mudah-mudahan dalam hidupnya selalu diterangi oleh hidayah Sang Khaliq. Amin ya rabbal ‘alamin….

Kesunnahan Dalam Menangani Daging Aqiqah
Dalam kitab-kitab fiqh disebutkan ada beberapa sunnah yang harus diperhatikan dalam rangka menangani daging binatang aqiqah, antara lain:

1. Tidak memecahkan tulang belulangnya. Di antara beberapa kesunnahan yang harus diperhatikan dalam mengaqiqahi anak ialah agar tulang binatang sembelihan itu jangan sampai hancur sedikitpun, baik pada saat menyembelih maupun pada saat memakannya. Bahkan setiap tulang harus dipotong dari ruasnya, jangan sampai dihancurkan.
Sebagian ulama menyebutkan beberapa hikmah dari tidak memecahkan tulang belulang binatang aqiqah:

  1. Untuk menunjukan kemuliaan makanan tersebut. Saat diberikan kepada siapa saja yang makan dianjurkan agar daging tersebut berbentuk potongan. Hal ini lebih utama dan lebih menunjukkan sikap kedermawanan daripada kalau dipotong kecil-kecil.
  2. Apabila pemberian tersebut baik, maka akan mendapat kesan yang baik pula dari orang yang menerima. Hal itu juga menunjukkan betapa mulianya jiwa orang dan betapa besar perhatiannya. Di sana ada harapan besar orang tua kepada si anak agar ia menjadi besar, mempunyai perhatian yang tinggi dan kemuliaan jiwa.
  3. Ketika aqiqah disimbolkan sebagai penebus diri, dianjurkan agar tulang tidak dipatahkan sebagai harapan agar anggota tubuh sang anak juga selamat, sehat dan kuat.

Sunnah yang demikian mengandung pelajaran dan harapan (tafa’ul) agar fisik si jabang bayi yang diaqiqahkan kelak tumbuh dewasa secara normal dan sehat tanpa ada cacat ataupun penyakit tulang.

2. Daging aqiqah dibagikan kepada fakir miskin
Seseorang yang melaksanakan aqiqah boleh memakan daging aqiqah, memberi makan dengannya, bersedekah dengannya kepada fakir miskin atau menghadiahkan kepada teman atau karib kerabat. Akan tetapi daging aqiqah akan lebih utama jika dibagikan kepada fakir miskin semuanya.

Dengan banyaknya jumlah daging aqiqah yang diberikan kepada fakir miskin, maka sudah barang tentu kemungkinan terkabulnya do’a, juga semakin banyak. Apalagi kita sama-sama meyakini do’a fakir miskin lebih mudah dikabulkan. Dengan demikian, harapan akan terbentuknya pribadi yang shaleh bagi anak yang diaqiqahi juga semakin banyak.

3. Daging aqiqah dibagikan setelah masak
Tidak sebagaimana halnya dengan daging qurban yang dibagikan dalam keadaan mentah, daging aqiqah disunnahkan agar dibagikan setelah dimasak lebih dahulu, kemudian disedekahkan kepada fakir miskin.

Hal demikian dikarenakan jika dagingnya sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga tidak merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan rasa syukur terhadap ni’mat tersebut. Para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dapat menyantapnya dengan gembira. Sebab, orang yang diberi daging yang sudah dimasak, siap dimakan, enak rasanya tentu rasa gembiranya lebih dibanding jika diberi daging mentah yang masih membutuhkan tenaga lain untuk memasaknya.

Dan pada umumnya, makanan syukuran (dibuat dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur) dimasak dahulu sebelum diberikan atau dihidangkan kepada orang lain. Sebab hal tersebut lebih menunjukkan akhlak terpuji dan sikap kedermawanan daripada memberikan daging secara mentah.

Bagi orang tua yang kurang mencukupi, mungkin lebih tepat jika daging aqiqah yang sudah dimasak itu dibagikan bersamaan dengan upacara penamaan anak dalam jamuan makanan para tamu yang diundang.

Demikian beberapa kesunnahan dalam menangani daging aqiqah. Kesemuanya mengandung pendidikan yang berharga yang perlu kita singkap.

Nah itu lah ulasan sedikit mengenai Aqiqah dari sumber lain. semoga apa yang kami sampaikan di atas dapat berguna dan bermanfaat untuk anda semuanya. ammmiiiinnnnn…..

Tags: , , , , , , ,